Sekedar mengingat masa lalu, dan mencoba menilik masa kini

 

Oleh

Zulva ismawati

Seiring berjalannya waktu, hari demi hari usia kita tentu selalu bertambah. Meski sudah berpuluh tahun yang lalu, namun masih terasa baru kemarin, benar-benar terasa masih belum lama. Teringat waktu itu masa usia sudah hampir menganjak usia sekolah, ketika para tetangga banyak yang menyekolahkan putra-putrinya ke Taman bermain Kanak-kanak, setiap pagi terlihat teman-teman ku kala itu di bonceng Bapak atau ibu mereka menuju kesekolah. Namun tidak demikian dengan anak-anak dikeluarga kami. Iya, Bapak selalu dawuh untuk nanti saja sekolahnya, masih belum 7 tahun dan langsung saja ke Madrasah Ibtidaiyah (MI), sebuah sekolah ala pesantren dekat kampung tempat tinggal kami. insyaAllah tidak apa-apa, tidak perlu bingung dan takut tidak bisa atau takut tertinggal.

Apa Dawuh Bapak tentu kami meng-iyakan. Dan alhamdulillah apa yang disampaikan Bapak memang benar. Terbukti dalam keluarga kami memang kesemuanya akhirnya bisa membaca, menulis, berhitung, dan alhamdulillah bisa menempuh jenjang Pendidikan cukup tinggi dalam versi kami. Dan tentu dalam hal ini memang tidak tertinggal dengan teman-teman yang dulu bersekolah di taman kanak-kanak.

Pada tahun sekitar 1990an Pendidikan tingkat sekolah dasar memang jauh berbeda dengan era sekarang 2020an. Pada saat ini, pada tingkat dasar anak-anak belia ini sudah di minta untuk bisa minimal menguasai calistung, Baca, Tulis, Hitung. Sehingga proses belajar Calistung pada saat ini sudah bergeser ke jenjang Taman Kanak-Kanak. Anak-anak diusia TK, sekitar 5-6 tahun sudah tidak diajarkan sekedar bernyanyi dan bermain, seperti labelnya Taman Bermain. Dimana untuk saat ini anak-anak jenjang TK sudah dijejali dengan sedemikian materi dan buku yang memang harus mulai mereka kuasai.

Teringat benar pergeseran Pendidikan era 1990an dengan era 2020an, yang entah ini semakin baik atau semakin tidak baik masih belum jelasa paparan jawabannya. Masa dulu, Pendidikan Madrasah ibtidaiyah kelas 1 masih diajarkan dengan alfabet, belajar berhitung, belajar menulis, dan bahkan masih belajar cara memegang pensil. Namun jauh di masa sekarang, dimana buku anak kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah saja sudah sedemikian berapa tumpuk. Dan ketika ku coba mengangkat tas mereka saja luar biasa berat sudah.

Materi pelajaran yang dulu berada di level kelas SD kelas 1 misal, sekarang sudah bergeser ke level Taman bermain kanak-kanak. Level materi yang dulu SMP, sekarang sudah mulai bergerser ke level sekitar kelas 4 pendidikan dasar. Anak-anak kecil dimasa ku dulu, sekolah saja tidak begitu serius, ya pokoknya main dan bahagia. Belajar juga tetap belajar namun tidak seperti saat ini, jauh beda. Bimbingan les misalnya, dulu malah cenderung tidak ada, ada juga belajar sendiri dirumah, atau bahkan tidak belajar. Tuntutan Pendidikan yang luar biasa tinggi saat ini, membuat Pendidikan dilevel bermain kanak-kanak seperti bukan taman bermain lagi. Taman bermain kanak-kanak pada saat ini menjadi serasa bergeser menjadi seperti Pendidikan sekolah dasar, dimana calistung memang diajarkan disini dan harus dikuasai.

Teringat jelas, dulu aku merasa happy sekali dimasa kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah. Pelajaran juga masih ini budi, ini ani dan seterusnya. Masih menulis membaca tingkat dasar sekali. Dimana saat ini hal ini tidak kita jumpai dipendidikan tingkat Sekolah Dasar. Iya, karena memang saat ini memang sudah  bergeser. Anak-anak dulu yang ketika pulang sekolah bermain Bersama tetangga dihalaman rumah, di sawah, di kebun. Untuk saat ini hal ini tidak begitu kita jumpai. Pada masa ini era 2020an, sepulang sekolah anak-anak akan istirahat sebentar untuk selanjutnya mengerjakan aktivitas sedikit, mulai dari les pelajaran, les matematika, les Bahasa inggris dan lain-lain. Hingga akhirnya tertidur dimalam hari, dengan waktu bermain yang cukup jauh berbeda dengan anak-anak dimasa dulu era 1990an.

Senyum yang dulu kuingat benar, main kejar-kejaran, main petak umpet, gobak sodor, kecik-an, wong-wongan, dan lain-lain bahagia sekali, sangat berbeda dengan kebanyakan anak-anak dijaman sekarang. Anak-anak di jaman sekarang hiburannya pun kebanyakan sudah beda, dimana kalau masa sekarang kebanyakan ya main gadget, play station, dan lain-lain. Tentu hal ini berpengaruh terhadap rasa solidaritas, kecerdasan social yang mereka miliki. Selain itu, beban Pendidikan yang cukup tinggi levelnya tentu juga sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologi anak-anak pada masa ini. Terlebih lagi kondisi pandemi Covid-19 dimana Pendidikan saat ini dilaksanakan dengan system daring.

Setiap hari, kecuali hari libur, anak-anak akan mendapatkan tugas dari bapak dan ibu guru mereka yang dikirimkan via online untuk kemudian dikerjakan anak-anak dirumah bersama orang tua mereka. Bagi para orang tua kemungkinan besar akan merasa kasihan juga terhadap anak mereka, dikondisi belia harus sudah belajar dan bersekolah, namun satu sisi kehawatiran muncul dari para orang tua karena memang jaman sudah seperti ini. Dan seandainya tidak menyekolahkan putra-putri mereka di taman bermain kanak-kanak maka akan bisa tertinggal, belum bisa Calistung, belum bisa menyesuaikan diri di Pendidikan jenjang SD, dimana nanti di usia SD anak-anak akan langsung bertemu dengan materi pelajaran yang cukup tinggi levelnya dan lain-lain mungkin banyak kehawatiran lainya. Maka siapa yang salah? Apakah guru yang mengajarkan materinya ataukah orang tua yang menyekolahkan anaknya karena takut anaknya tertinggal ataukah system Pendidikan kita yang perlu dibenahi. Jawabannya dikembalikan kepada pembaca masing-masing.

Pernah aku coba menilik system Pendidikan tingkat dasar di negara jepang dan singapura, dimana kedua negara ini bagus sekali dalam versi ku akan kemajuan negara dan pendidikannya. Aku mencoba menilik mulai dari kondisi kelas, metode pembelajaran, buku pelajaran yang mereka gunakan, apa yang diajarkan kepada mereka, dan mencoba menimbang bobot Pendidikan yang diberikan kepada mereka diusia mereka, usia kanak-kanak, usia Pendidikan sekolah dasar. Apabila disini pembaca ingin mengetahui juga maka bisa langsung menilik tayangan di youtube banyak sekali, serta langsung akses ke mbah goole. insyaAllah banyak sekali akan dijumpai di sana.

Beban Pendidikan anak usia kelas 1 sekitar usia 7 tahun, masih mengenal mulai dari hitungan dasar, dan berbeda jauh dengan buku yang ada di Indonesia, dalam hal ini penulis sendiri hidup di wilayah Tulungagung jawa timur yang kebetulan materi yang diajarkan pada tingkat taman bermain kanak-kanak sudah sangat komplikated sekali dalam versiku. Beda dengan buku yang ada di kedua negara diatas.

Pada saat ini menjadi PR besar para orang tua, terlebih saat ini masa pandemi Covid-19 dimana, level materi yang diajakan ketika online ini pun masih sama dengan Pendidikan ketika era offline. Senyum anak-anak adalah yang paling utama. Sedikit banyak semoga tulisan ini bermanfaat. dan Semoga anak-anak kita, para generasi yang masih belia ini dan kita semua bisa melewati masa ini dengan baik dan tentu bisa maksimal tanpa kehilangan kebahagiaan namun tetap menjadi generasi yang unggul dan berkualiltas.


Tulungagung, 25 Agustus 2021

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAWALI HARI DENGAN SELALU BERSYUKUR

Pentingnya Pendidikan, Pengajaran, dan Pembiasaan Sejak Dini