CORONA DAN KONDISI PEREKONOMIAN SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT MENENGAH KEBAWAH



Oleh Zulva Ismawati

Tulisan ini terinspirasi dari keadaan ketika penulis membeli sapu lidi didepan rumah dari seorang pedangan sapu keliling yang tetap nekad berdagang meski ada intruksi work from home. Ketika itu menjelang idul fitri, dimana, berita akan Covid-19 sangat tidak menentu. Dan bisa dikatakan keadaan masyarakat secara umum waktu itu benar-benar dilanda ketakutan akan virus corona, yang didorong munculnya berita-berita di TV yang hampir setiap saat adalah tetang corona, nyaris tidak ada berita lain (jarang sekali). Namun Sang nenek ini tetap nekad berjualan sapu keliling, dengan juga tetap memakai masker yang mungkin bisa dikatakan tidak begitu layak pakai, hanya dengan motivasi bisa memberi makan cucunya dirumah. Dan kondisi ini pun sangat penulis yakini, bahwa pasti juga banyak sekali orang diluar sana waktu itu, dengan berbagai macam profesi yang berbeda, yang tetap nekad berjualan di pinggir jalan dan bahkan sampai keliling meski mungkin membahayakan jiwa mereka.

Kondisi  pandemi covid-19 memiliki banyak sekali dampak dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat, termasuk di Indonesia. Dari sisi sosial, budaya, pendidikan, politik, terlebih dari sisi ekonomi masyarakat. Pada tulisan kali ini, saya akan menilik dari sisi ekonomi. Dari sisi ekonomi, dampak yang ditimbulkan oleh adanya pandemi Covid-19 ini sungguh luar biasa besar. Adanya kebijakan work from home, social distancing, dan adanya traumatis tersendiri akan covid 19 memiliki dampak mulai dari ekonomi masyarakat kecil-menengah-atas. 

Dengan adanya work from home (bekerja dari rumah), mobilisasi masyarakat di luar rumah secara pasti akan sangat berkurang, hal ini memberikan dampak yang luar biasa kepada masyarakat ekonomi kecil yang biasanya berdagang, baik membuka toko, warung, rental computer, atau mungkin fotokopian di pinggir jalan/dikanan kiri lokasi/terlebih di sekitar kampus yang biasanya memiliki aktivitas tinggi sebelum adanya pandemi Covid-19. Dalam kondisi pandemi ini, mereka harus merelakan menutup toko/warungnya sementara, atau mungkin apabila masih ada yang tetap berjualan pastilah mengurangi porsi produksi karena memang sepi konsumen. Kondisi ini tentunya sangat berpengaruh terhadap omset penjualan yang bisa dipastikan menurun.

Selain itu, dampak pandemi dari sisi ekonomi juga sangat dirasakan oleh para pemiliki kos-kosan. Terutama mereka yang berada di kanan kiri kampus/lembaga pendidikan yang biasanya kos-kosan mereka laris manis karena menjadi kebutuhan primer bagi siswa/mahasiswa dari berbagai daerah, baik luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri. Ambilah contoh di dusun plosokandang, Tulungagung, Jawa Timur, disana terdapat kampus yang cukup besar, IAIN Tulungagung. Sebelum masa pandemi Covid-19 lingkungan kampus bisa dikatakan nyaris tidak pernah sepi dengan aktivitas lalu lalang mahasiswa yang memang menuntut ilmu di kampus tersebut. Dari sekian mahasiswa yang ada, tentulah mereka membutuhkan tempat tinggal dan yang pasti kondisi ini sangat menguntungkan para pemiliki kos-kosan di daerah sekitar kampus. 

Dengan adanya kebijakan work from home, masyarakat yang biasa mendapatkan penghasilan dari kos-kosan harus berlapang dada terlebih dahulu. Hal ini karena memang adanya Covid 19 ini pemerintah terpaksa mengambil kebijakan salah satunya adalah work from home dalam rangka menganggulangi penyebaran Covid-19. Berpijak dari kebijakan tersebut, semua lembaga pendidikan mendapat intruksi langsung untuk melakukan work form home atau bekerja dari rumah. Dan dari sini pula, semua aktivitas kampus dan aktivitas perkantoran harus dijalankan dari rumah masing-masing, termasuk dengan mahasiswa dan kalangan lain. Para penghuni kos harus pulang ke kampung halaman masing-masing, secara otomatis pemasukan para pemilik kos-kosan ini pasti berkurang dan bisa dikatakan turun drastis. Terutama para pemilik kos-kosan diwilayah sekitar kampus/sekolah yang biasanya penghuni kos didominasi oleh para mahasiswa. Sangat dimaklumi dengan kondisi ini pun pastinya tidak ada orang tua wali mahasiswa yang hawatir, dan meminta putra-putri mereka masing-masing untuk pulang kekampung halaman. Dan konsiai ini pun otomatis, memiliki imbas sangat besar kepada para pemilik kos-kosan disekitaran kampus tersebut.

Kebijakan work from home di mulai pada bulan Maret 2020, terkait tanggal, ada beberapa perbedaan di beberapa lembaga pendidikan. Kebijakan Lock down pun banyak yang menerapkan di berbagai daerah. Pada bulan April akhir, kaum muslimin menyambut datangnya bulan Ramadhan, Ramadhan pada tahun 2020 ini memang agak berbeda. Karena pada saat itu, kekhawatiran masyarakat akan penyebaran virus Corona masih sangat menghawatirkan. Kegiatan sholat tarawih yang biasanya dilaksnakan disetiap mushola dan masjid pada Ramadhan di tahun ini mengalami banyak perbedaan. Didukung pula dengan instruksi MUI kala itu, masyarakat pun dihimbau untuk melaksanakan sholat tarawih di rumah masing-masing. 

Satu bulan setelah melaksanakan ibadah Ramadhan, kaum muslimin akan merayakan hari raya idul fitri. Pada kondisi normal sebelum pandemi, di Ramadhan pertengahan sampai akhir masyarakat akan disibukkan dengan persiapan hari raya idul fitri. Mulai dari mempersiapkan kue-kue, membelikan baju lebaran buat putra-putri mereka, bersih-bersih dan mengecat rumah, bagi para pedagang akan sibuk berlalu-lalang mengangkut belanjaan mereka dengan dagangan masing-masing. di setiap toko, baik toko baju, perbelanjaan-perbelanjaan akan sangat ramai sekali dengan pengunjung. 

Namun tidak demikian dengan kondisi lebaran di tahun 2020 ini, aktivitas-aktivitas di atas tidak begitu nampak, perbelanjaan sepi, dan di pertokoan atau palen yang pasti menyediakan kue-kue lebaran, nampak legang dan sedikit kue-kue yang dijual dan bahkan ada yang tidak jualan sama sekali. Hal ini sangat wajar, karena dengan untung yang belum tentu banyak namun dengan resiko barang yang belum tentu laku di pasaran. Kondisi yang seperti ini terjadi adalah karena masyarakat dari berbagai profesi terutama dari kalangan wiraswasta dan pengusaha yang biasanya memiliki pemasukan yang cukup banyak dari beberapa cabang usaha yang mereka lakukan, namun pada kondisi pandemi saat ini beberapa mereka harus berlapang dada karena memang belum bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, dan ini pun berpengaruh terhadap income yang mereka dapatkan.

Masyarakat secara umum, hanya akan keluar rumah pada kondisi-kondisi penting saja, katanlah urusan pekerjaan yang darurat harus diselesaikan keluar rumah maka mereka akan keluar rumah dengan menjalankan protocol kesehatan seperti yang dihimbaukan oleh pemerintah. Demikian pula dengan aktivitas belanja, selain karena keterbatasan ekonomi juga, masyarakat secara umum, keluar rumah hanya untuk membeli kebutuhan makanan pokok sehari-hari. Keinginan untuk membeli barang-barang lain mungkin sementara banyak yang dikesampingkan meskipun pada saat itu juga menjelang lebaran idul fitri. Bagi masyarakat kalangan menengah kebawah hal ini sangat penting untuk dilakukan, dalam rangka tetap bisa bertahan ditengan kondisi pandemi Covid-19. 

Di sisi lain, kalau kita menilik masyarakat ekonomi menengah kebawah, mereka tetap melakukan aktivitas perekonomian mereka. Mulai dari yang biasa berjualan keliling, jualan di kanan kiri jalan yang sebagian besar adalah para penjual jajanan makanan kecil anak-anak dan lain-lain sebagainya. Hal ini tetap mereka lakukan adalah karena itu merupakan satu-satunya penghasilan mereka, dan apabila hal tersebut tidak dilakukan maka mereka pun tidak memiliki pemasukakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Hal ini mungkin tidak dirasakan oleh beberapa orang yang memiliki penghasilan tetap atau penghasilan diatas rata-rata, namun demikianlah yang dialami oleh mereka yang berada di tingkatan ekonomi menengah kebawah.

Harapan tentunya, semoga kondisi yang demikian akan segera berakhir. Dan kondisi akan bisa kembali normal seperti biasa. Meski sampai saat ini pun belum ada kepastian kapan situasi ini akan berakhir. Yang jelas kita semua tahu bahwa mentari kebahagiaan akan terbit, dan semoga hal ini akan segera terwujud. Selalu semangat dan tidak pernah berputus asa dari rahmad Allah SWT.

Berkaitan dengan kondisi ekonomi, didalam suatu kondisi baru, terdapat suatu peluang baru. Apa saja peluang baru tersebut? Upsss stop dulu. Itu adalah materi tulisan yang akan datang. Sampai ketemu lagi. Dan semoga kita semua diberikan umur yang panjang, selalu sehat, dan selalu selamat dimanapun kita berada. Aaamiiin.
 
Sebuah catatan dari seorang penulis yang masih sangat minim ilmu, kritik dan saran dari para pembaca sekalian sangat penulis harapkan. 



Sabtu, 25 Juli 2020
Tulungagung

Komentar

  1. Balasan
    1. Terimakasih banyak Bu muslikah, salam kenal. mhon masukanya.

      Hapus
  2. Tulisan keren yang mewakili perasaan kami sebagai warga sekitar kampus. Akibat wabah ini, banyak sekali sektor ekonomi menengah ke bawah yang harus gigi jari di tahun 2020 ini. Semoga wabah ini cepat berakhir dalam waktu dekat ini. Aamiin,

    Ngapunten, koreksi sedikit. Ds. Plosokandang, Dsn. Srigading untuk letak dari kampus kita tercinta ini IAIN Tulungagung. 🙏😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAWALI HARI DENGAN SELALU BERSYUKUR

Sekedar mengingat masa lalu, dan mencoba menilik masa kini

Pentingnya Pendidikan, Pengajaran, dan Pembiasaan Sejak Dini