STRATEGI MENGAJAR BAHASA ARAB DAN BAHASA INGGRIS MENGGUNAKAN LISAN DAN JARI TELUNJUK
Bahasa Arab dan Bahasa Inggris merupakan kedua mata pelajaran yang cukup mudah apabila dianggab mudah, namun demikian pula sebaliknya kedua mata pelajaran ini akan sangat mungkin juga dianggab sulit untuk dikuasai bagi banyak siswa yang mungkin kurang menyukai atau pun juga bagi siswa yang memang sudah menganggab kedua mata pelajaran ini sulit.
“Menganggab”, sepatutnya kita sedikit mengulas kembali kata ini. Kata menganggab, disini bisa berarti asumsi yang dimiliki oleh seseorang, pespektif, pandangan seseorang terhadap sesuatu. Maka disini sedikit kita memaparkan, bahwa apapun yang seseorang ungkapkan, cara pandang seseorang terhadap sesuatu, anggapan seseorang, itu semua yang mengendalikan adalah diri orang tersebut, dan bukan orang lain. Apabila ada anggapan “Sulit”, maka otak orang tersebut akan menerima stimulus ataupun respon kata sulit dan sesuatu itu pun akan menjadi sulit dan bisa jadi benar-benar sulit. Segala sesuatu tergantung dari cara kita dalam memandang sesuatu. Hal ini sejalan dengan ajaran Nabi kita Muhammad SAW, agar kita selalu berkhusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah. Dan Allah adalah sesuai dengan prasangka hambanya.
Terkait dengan anggapan kita dalam memandang sesuatu, ini berlaku dalam segala sisi kehidupan kita, demikian pula dengan cara seseorang mengajarkan atau cara siswa belajar akan mata pelajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Bersumber dari data yang kami temukan baik dari lapangan, nilai akademik yang diperoleh siswa dalam kedua mata pelajaran ini masih banyak yang dibawah KKM. Adapun nilai KKM di beberapa sekolah berkisar 70 atau 75 tergantung dari kebijakan sekolah masing-masing. Karena kedua mata pelajaran ini memang mata pelajaran yang termasuk muatan local (mulok). Mata pelajaran ini boleh ada dan boleh tidak disuatu lembaga pendidikan. Namun hampir disetiap lembaga pendidikan mata pelajaran bahasa Inggris diadakan, namun khusus untuk mata pelajaran Bahasa Arab adalah akan diajarkan dilembaga pendidikan yang bernota bene Islam. Adapun diperguruan tinggi untuk mata pelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris disesuaikan dengan jurusan masing-masing, mengingat di perguruan tinggi terdapat penjurusan dimasing-masing keilmuan, meskipun ada di tingkatan SMA pun terdapat penjurusan khusus bahasa.
Kembali kepada pembahasan kita tentang strategi mengajar mata pelajaran bahasa Arab dan Inggris. Dari hasil data yang disebutkan diatas, ada kemungkinan banyak para pengajar menemukan kesulitan cara mengajarkan bahasa Inggris ataupun bahasa arab kepada para siswa mereka, atau mungkin apabila dilihat dari sisi siswa, ada banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menangkap apa yang diajarkan oleh guru atau beberapa kemungkinan yang lain yang mungkin terjadi. Kesulitan ini bisa jadi dirasakan oleh banyak kalangan baik mulai dari siswa level TK/SD/SMP/SMA sederajat serta level mahasiswa. Meskipun kita juga akan menjumpai di beberapa sekolah dengan beberapa siswanya yang memiliki nilai bagus dalam kedua mata pelajaran tersebut.
Sebelum kita mengulas mereka yang memiliki nilai yang dibawah KKM. Kita akan mengulas terlebih dahulu beberapa faktor yang bisa mendukung siswa sehingga siswa tersebut berhasil memiliki nilai bagus dalam nilai akademiknya, atau mungkin dikatakan berhasil Dalam pembelajaran, dalam hal ini bahasan kita adalah dalam mata pelajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Beberapa faktor pendukung yang mungkin muncul diantaranya adalah faktor orang tua, faktor guru, faktor lingkungan, dan faktor dari individu siswa.
Yang pertama adalah dari faktor orangtua, dukungan orang tua dalam keberhasilan seorang anaknya dalam sekolah adalah sangat penting. Demikian pula dalam belajar bahasa Arab dan Bahasa Inggris, orang tua yang memiliki disiplin akan pentingnya belajar bagi anak-anak mereka sangat berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan anak-anak mereka tersebut. Ambilah contoh: orang tua yang rajin mengingatkan dan membimbing anak-anak mereka saatnya belajar atau mengerjakan tugas sekolah, mengeleskan ke lembaga bimbingan belajar tertentu ketika mungkin diperlukan, mempraktekkan langsung akan vocab-vocab di sekolah dengan benda-benda yang ada disekitar rumah, memberikan dorongan semangat motivasi belajar, menanamkan keyakinan bahwa sesuatu akan mudah apabila itu dianggab mudah dan sebaliknya, serta tidak ada yang sulit selama kita mau belajar dan terus berusaha. Orang tua yang aktiv komunikasi dengan guru di sekolah akan memiliki imbas yang sangat bagus akan keberhasilan pendidikan anak-anak mereka.
Yang kedua adalah faktor guru. Seperti yang kita tahu, guru adalah ujung tombak dalam pendidikan. guru yang profesional sangat diperlukan dalam keberhasilan pendidikan anak didiknya. Sesuai dengan yang kita tahu bahwa guru memiliki empat standar kompetensi profesionalisme. Keempat kompetensi tersebut adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompenesi profesional, kompetensi sosial. Kali ini kita akan lebih menitik beratkan kepada kompetensi profesional. Kompetensi profesional guru yaitu penguasaan materi ajar, kemampuan mengelola pembelajaran, pengetahuan tentang evaluasi. Dalam hal ini termasuk juga kemampuan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Strategi yang tepat juga akan memberikan pengaruh besar terhadap keberhasilan proses belajar siswa-siswinya dalam memahami mata pelajaran demikian pula dengan bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Yang ketiga adalah faktor lingkungan. Lingkungan memiliki pengaruh yang luar biasa besar kepada setiap orang. Demikian pula dengan peserta didik. Lingkungan yang mendukung dalam belajar, lingkungan dimana dia hidup keseharian, dengan siapa saja mereka bergaul, akan memberikan pengaruh yang besar dalam keberhasilan pendidikan seseorang anak didik. Ketika seseorang anak didik hidup dalam lingkungan belajar yang baik, yang penuh semangat belajar, setiap hari bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi belajar yang tinggi, besar kemungkinan anak tersebut akan juga terbawa seperti apa yang ada dilingkungan mereka. Pun demikian pula dengan sebaliknya. Namun teori tidak bisa kita yakini bahwa 100% benar tanpa kesalahan sedikitpun, karena kemungkinan yang lain atau biasa kita sebut dengan faktor X akan sangat mungkin juga terjadi. Katakanlah sebagai contoh, ada seseorang yang hidup dilingkungan serba belajar, semua yang dibicarakan setiap hari ilmu baik itu dirumah maupun itu disekolah, dan tugas dia hanya belajar, pasti hal ini akan berbeda dengan seseorang yang hidup dengan lingkungan yang memililki latar belakang dengan kondisi diatas. Kemungkinan siswa yang hidup disituasi yang mendukung kemungkinan besar dia akan berhasil, demikian pula sebaliknya. Meski mungkin karena Kuasa Allah berbagai kemungkinan bisa terjadi. Sebagai contoh, ada seseorang yang hidup dengan segala kekurangan dan kurangnya dukungan namun ternyata dia adalah berhasil dan bukan sebaliknya. Maka sebenarnya berhasil atau tidak kita, itu juga dipengaruhi oleh bagaimana kita dalam melihat sesuatu, dalam menyikapi sesuatu dll. Kalau dari pujian jawa disebutkan, salah satu tombo ati yang nomer tiga diisyaratkan, wongkang sholih kumpulono. Yang artinya (berkumpulah dengan oragn-orang sholih. kita juga diperintahkan untuk berteman, berkumpul dengan orang baik, yang ini pun juga mengandung makna bahwa faktor lingkungan juga sangat penting pengaruhnya kepada seseorang yang ada dilingkungan tersebut.
Keempat, faktor pribadi peserta didik. Setiap manusia didunia ini diciptakan oleh Allah dalam keadaan unik, tidak ada satu pun orang didunia ini sama meski ada yang kembar identik sekalipun. Baik dari sisi fisik mungkin bisa saja ada yang sama, atau dari segi psikologisnya, atau dari segi agamanya, dari segi sosialnya, dari segi kecerdasannya, atau pun dari sisi lainnya, namun tidak ada orang didunia ini yang sama persis dari kesemua sisinya dan itulah kekuasaan Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Menciptakan. Seorang siswa adalah juga manusia. dan mereka pasti sangat beranekaragam dari segala sisinya. Seorang guru pun sangat penting untuk memahami ini. strategi yang diterapkan oleh seorang guru dalam mengajar bisa jadi akan tepat digunakan untuk seorang siswa, namun akan sangat mungkin pula strategi tersebut akan menjadi tidak tepat untuk siswa lain. Hal ini kembali lagi, karena setiap manusia, setiap siswa adalah unik dan tidak ada yang sama. Dalam tanda kutip meski akan sangat mungkin dalam beberapa akan bisa dilakukan pengelompokan dari sisi tertentu. akan banyak ditemui jenis-jenis karakter, latar belakang, motivasi belajar, semangat belajar siswa.
Para ahli pendidikan telah banyak mengemukakan tentang strategi mengajar dan berbagai strategi pendukung lain dalam pengajaran. Penelitian terus dilakukan berbagai strategi dan teori bermunculan, termasuk dalam strategi mengajar bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Strategi mungkin tidak bisa langsung dikatakan tepat, kembali lagi srategi ini akan mungkin tepat apabila dilakukan kepada seseorang atau lembaga tertentu di daerah tertentu, namun bisa jadi tidak tepat didaerah yang lain. Strategi yang paling tepat terus menerus dilakukan penelitian, dalam rangka perbaikan atau evaluasi.
Salah satu strategi yang paling tepat dalam mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris dan Arab adalah menggunakan metode jari telunjuk dan lisan. Bagaimanakah bentuk strategi ini? benar efektif atau tidakkah? Banyak sekali guru yang mengajarkan bahasa Arab maupun Bahasa Inggris, dan sangat mungkin sudah ada yang memakai strategi yang sama dalam mengajar dua mata pelajaran ini. Namun sependek pengetahuan saya, sampai saat ini mungkin masih terlihat jarang artikel yang spesifik membahas strategi pengajaran kedua mata pelajaran ini yang menggunakan lisan dan jari.
Strategi mengajar ini bisa dibilang cukup sederhana. Sebagai catatan dalam strategi ini diperlukan buku tulis catatan pelajaran bahasa arab dan bahasa Inggris, alat tulis pen/pensil, papan tulis, serta buku cetak pendukung dari masing-masing kedua mata pelajaran tersebut apabila dimungkinkan. Dimasing-masing mata pelajaran ini dilakukan dalam waktu yang berbeda, namun kedunya bisa memakai cara yang sama.
Di awal pembelajaran ini, guru akan menyampaikan kepada peserta didiknya untuk menyiapkan buku tulis (buku catatan) serta alat tulis. Pada saat itu guru sekaligus akan meminta muridnya membuka halaman sesuai dengan halaman materi dihari tersebut. Guru juga menjelaskan bahwa diawal nanti guru akan mengajarkan cara membaca, cara menghafal vocab, da bisan cara memahami bahasa Arab maupun bahasa Inggris, dan diakhir guru akan melakukan evaluasi akan pemahaman yang telah diterima oleh siswa. Adapun cara evaluasi adalah sangat bermacam-macam seperti yang dijelaskan dalam buku evaluasi pembelajaran.
Kembali kepada proses pembelajaran, Guru akan menulis di papan tulis judul atau tema bahasan pada hari tersebut. Penulisan tema di papan tulis ini sangat penting, karena akan membantu peserta didik untuk tetap fokus akan materi pada hari dan jam belajar tersebut. Dimana tulisan ini tidak akan dihapus selama pembelajaran dihari dan jam tersebut belum berakhir.
Setelah menuliskan judul, guru akan mencoba melakukan pre test kepada siswanya (tes yang bisa dilakukan oleh seorang guru sebelum melaksanakan KBM). Kegiatan pre test ini bisa dilakukan seperlunya dan disesuaikan dengan kebutuhan, tujuannya adalah mengukur kesiapan peserta didik dan seberapa mereka tahu akan materi yang akan diajarkan, seberapa mereka menguasai materi tersebut. Dan dari pre test ini akan dijadikan pijakan bagi guru tersebut untuk melaksanakan KBM.
Respon apapun akan mungkin muncul dari siswa akan pre test yang diberikan oleh guru. Hal ini dilatarbelakangai kesiapan mereka dalam menerima materi atau pun dari keunikan yang mereka miliki yang memang alamiah dari Allah SWT seperti yang telah diungkapkan sebelumnya. Dalam hal ini mungkin terlihat 50% ada yang siap dan belum, ada yang menguasai dan belum, maka dari sini guru dirasa perlu menggunakan strategi pembelajaran bahasa asing menggunakan Lisan dan Jari Telunjuk. Setelah pre test dilakukan, guru akan memberikan penjelasan dan garis besar akan materi apa yang akan dipelajari pada hari tersebut.
Tahap selanjutnya guru akan menuliskan beberapa vocab yang sekiranya penting untuk dihafalkan dipapan tulis, selain siswa juga menyimak apa yang guru sampaikan seperti yang ada dibuku dektat mereka (buku pegangan materi sesuai dengan ketentuan dari sekolah). Kenapa guru menuliskan vocab baru yang sesuai materi di papan tulis, hal ini karena kunci seseorang menguasai bahasa asing, salah satunya harus memahami dan menguasai vocab terlebih dahulu. Sangat mustahil apabila seseorang akan bicara akan sesuatu tapi tidak faham dengan kata apa yang akan diucapkan. Maka vocab menjadi hal penting untuk dikuasai pertama kali disamping keahlian penunjang lain dalam penguasaan bahasa asing, mulai dari tata bahasanya, percakapan, dll.
Kembali lagi ke penulisan vocab dipapan tulis. Sangat dianjurkan papan tulis jangan terlihat terlalu penuh, dan voca bisa dituliskan satu persatu. Hal ini bisa dilakukan dengan beberapa alasan, yang pertama tulisan penuh akan membuat jenuh yang melihat, sehingga ketika jenuh sudah menghampiri maka akan sangat mungkin mempengaruhi mood (perasaan) peserta didik, dan hal ini secara langsung akan pengaruh pula terhadap daya otak seseorang peserta didik dalam menerima informasi, dalam hal ini ilmu. Selain itu, dengan vocab yang dituliskan satu persatu akan semakin memudahkan siswa untuk lebih fokus kepada satu kata (vocab) tersebut. Dengan dibimbing guru untuk menguasai satu persatu vocab, dan kemudian menuliskan vocab baru lagi apabila vocab sebelumnya sudah dikuasai (dihafal). Dan tidak hanya itu, dengan tidak adanya banyak tulisan vocab baru di papan tulis, siswa akan semakin punya percaya diri ketika sudah bisa menghafal satu vocab, tanpa fokus/mengingat/mengetahui berapa vocab lagi yang harus dia kuasai.
Hal ini sangat berbeda apabila di suatu papan tulis penuh dengan tulisan vocab baru. Yang besar kemungkinan tulisan yang terlihat penuh di papan tulis akan membuat jenuh seseorang yang melihatnya, demikian pula dengan siswa yang melihatnya. Dan sesuatu yang sebenarnya mudah, akan tiba-tiba terasa sulit, dan tidak mungkin untuk bisa dikuasai. Bisa dibayangkan apabila kita sendiri, disuguhi tulisan yang penuh dipapan tulis, dengan suguhan yang sama sekali tidak kita fahami dan kita dituntut untuk menguasai semuanya. Mungkin akan terasa beda apabila disajikan satu persatu.
Setelah guru menuliskan satu vocab, yang dimulai dari judul tersebut, berikut langsung dengan artinya yang langsung dituliskan dibawah vocab bahasa asing tersebut kata per kata (di awal belajar jangan menerjemah kalimat perkalimat, jika ingin siswanya cepat hafal dan cepat menguasai bahasa asing dalam hal ini bahasa Arab dan bahasa Inggris). Penulisan kata perkata ini, disertakan langsung dengan terjemahan dibawahnya (lebih mudah lagi dengan menggarisbawahi vocab yang diterjemahkan). Hal ini akan memudahkan siswa menghafal kata per kata, sehingga penguasaan bahasa asing akan lebih cepat.
Sedikit cerita yang mungkin banyak yang mengalami, mungkin disaat mengajarkan kepada siswa ada yang membantu menerjemah tugas sekolah yang dilakukan dengan kalimat perkalimat langsung. Dan apa yang terjadi kemudian, siswa tersebut tidak bisa menjawab ketika ditanya terjemahan dari kata tertentu. Maka penulisan terjemahan kata perkata adalah sangat disarankan, terutama pada vocab baru yang belum diketahui atau belum dihafal terjemahannya. Hal ini mungkin hampir sama dengan kegiatan maknani kitab kuning yang sudah menjadi tradisi pondok pesantren. Hanya saja yang dipelajari ini adalah bahasa asing (bahasa Arab dan bahasa Inggris).
Setelah guru menulis vocab baru (dalam tahap ini masih judul bab) beserta terjemahannya, Guru akan meminta siswanya untuk juga menulis vocab dan terjemahan tersebut dibuku tulis mereka masing-masing. Namun dalam hal ini murid bisa jadi tidak perlu diminta menulis vocab baru tersebut, yakni apabila murid sudah memiliki buku dektat dari mata pelajaran bahasa asing tersebut. Guru hanya akan meminta muridnya untuk menuliskan terjemahan dari vocab tersebut, dengan menggaris bawah vocab bahasa asing (perkata), yang kemudian langsung menuliskan terjemahan dibawah vocab tersebut.
Setelah tahap menulis judul dan terjemahannya ini, Guru akan meminta kepada muridnya untuk mengikuti apa yang diucapkan atas vocab tersebut. Karena memang bahasa asing, maka termasuk cara membacanya pun harus juga diajarkan. Apalagi dalam mengajarkan bahasa Inggris, dimana antara tulisan dan cara membacanya tidak sama. Setelah guru meminta siswa menirukan, sangat baik apabila guru misal meminta kepada beberapa muridnya (3 murid misal) untuk juga mengikuti apa yang diucapkan guru satu persatu.
Setelah menirukan cara pengucapan, guru akan meminta kepada anak didik untuk menaruh pensil, alat tulis lain, dan hanya fokus kepada guru. Guru akan memberi contoh cara menghafalkan vocab tersebut yaitu menggunakan lisan dan jari telunjuk. Dalam hal ini guru akan mengucapkan tulisan vocab yang ada, kemudian mengucapkan juga cara membaca yang benar akan vocab tersebut, dengan siswa pada saat ini memperhatikan papan tulis dengan fokus. Guru akan meminta kepada siswa untuk juga sambil melihat papan tulis, sambil mengucapkan tulisan asli vocab, kemudian sambil menggerakkan jari telunjuk dengan posisi jari seperti duduk tasyahud ketika jari telunjuk menunjuk. Adapun dalam strategi ini, jari telunjuk adalah sebagai alat tulis (pen atau pensil) dari siswa, adapun udara yang ada didepannya adalah sebagai papan tulisnya.
Dengan diawal siswa diberikan instruksi sambil diberikan contoh langsung, dengan siswa sambil melihat tulisan, jari telunjuk digerakkan untuk menuliskan vocab baru tersebut di udara (didepannya). Ini bisa dilakukan beberapa kali, mereka sudah merasa hafal atau belum, namun sekiranyaa 1-5 kali mungkin sudah sangat cukup. Setelah siswa terlihat menghafal mungkin bisa mulai siswa diarahkan untuk menutup buku dektatnya (buku tulisnya) dan juga tulisan dipapan tulis ditutup oleh guru/dihapus (kecuali untuk tulisan judul bab). Siswa diajak praktek berulang-ulang seperti ini, hingga guru merasa bahwa siswa-siswinya sudah bisa dianggab hafal/menguasai vocab per vocab tersebut. Dan demikian pula dengan vocab selanjutnya. Dengan catatan, sambil menggunakan jari telunjuk untuk menuliskan, menghafalkan vocab baru tersebut, siswa juga dibimbing untuk mengucapkan vocab tersebut dengan lisan. Hal ini dilakukan adalah untuk semakin mempercepat otak kita menangkap informasi-informasi baru yang mungkin datang. Hal ini selaras dengan gerak motorik dijari telunjuk, bekerjasama dengan telinga yang mendengar kata yang terdengar, terutama yang diucapkan oleh diri sendiri, dengan didukung visualisasi tulisan yang awalnya tampil di papan tulis/buku dektat yang bisa ditangkap oleh indera penglihat (meski selanjutnya mata ditutup atau sudah tidak melihat tulisan kembali). Ini akan semakin mempercepat kemampuan otak seseorang menerima informasi dan menghafal sesuatu terutama dengan vocab yang mungkin dianggab baru.
Demikianlah cara ini bisa dilakukan beberapa kali sesuai dengan kebutuhan guru dalam mengajarkan bahasa arab maupun bahasa inggris. Adapun tentang banyaknya vocab, ini bisa dikatakan flexible dan guru bisa mengajarkan seberapa banyak vocab sesuai dengan level dan standar masing-masing kelas tersebut. Namun normalnya 10-15 vocab dalam satu kali pertemuan.
Diakhir sesi, guru akan melakukan post test, adapun bentuk post tes sangat beragam, hal ini juga bisa dilihat di buku evaluasi pembelajaran. Postest ini juga bisa dilakukan dengan tulis dibuku tulis, maupun hanya menulis diudara dnegan menggerakkan jari telunjuk siswa. Hal ini dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa yang sudah hafal/menguasai vocab tersebut untuk langsung maju kedepan menuliskan vocab sesuai yang diminta oleh guru. Dan cara ini terbukti efektif juga, siswa yang benar menjawab akan mendapatkan reward. Reward tidak perlu mahal, bisa berupa tepuk tangan, pulang terlebih dahulu, istirahat terlebih dahulu dll yang sekiranya bisa membuat siswa senang. Maka selama itu mungkin dilakukan, maka apa salahnya untuk dilakukan.
Adapun sebelum melaksanakan post test guru memberikan informasi bahwa vocab yang sudah dipelajari dihari tersebut akan langsung diujikan di minggu yang akan datang. Dan setiap siswa diharuskan belajar dirumah dan menggunakan cara yang sama yang sudah diajarkan oleh guru disekolah. Disaat mengajar guru juga sering mengingatkan dan menanamkan kepada peserta didik, bahwa tidak ada sesuatu yang sulit, semua akan menjadi mudah, kuncinya hanya yakin bahwa itu mudah, dan mari itu dianggab mudah, maka akan benar menjadi mudah. insyaAllah. Guru yang memahami muridnya disini sangat diperlukan, ke empat standar kompetensi guru memang harus dimiliki oleh seorang guru. Kerjasama antara guru dengan orang tua siswa akan semakin mendukung keberhasilan pendidikan.
Penggunaan strategi ini sudah saya lakukan sejak 11 tahun yang lalu yang saya gunakan dilembaga pendidikan tempat saya mengabdi waktu itu demikian pula di LBB. dan sepertinya memang membawa dampak yang luar biasa. Di awal yang memang bahasa inggris dianggab sulit, sulit, dan sulit yang nilai siswanya selalu dibawah KKM, hingga akhirnya mereka memperoleh nilai jauh diatas KKM, dan iya selanjutnya berkembang dalam percakapan mereka dalam berbahasa asing. Meski kendala dan mungkin masih muncul beberapa siswa yang berada dibawah KKM, namun prosentase tersebut masih terhitung sangat kecil. Dibandingkan dengan strategi lama yang hanya mengajar dan ceramah, atau hanya sekedar meminta mereka mengerjakan tugas.
Dekimian sharing strategi mengajar bahasa arab dan bahasa inggris pada kesempatan kali ini, semoga sedikit cerita ini bisa bermanfaat. Tulisan ini dibuat pada sore hari sampai hampir larut malam, dalam sesi pertama belajar bareng menulis dengan beliau-beliau orang hebat, terutama Dr. Naim inspirasi kami.
Dalam ruang tamu rumah yang penuh kasih dan kenangan masa kecil.
Pare, 11 Juli 2020
Zulva Ismawati

Mantab Ibu cand. Doktor. Tulisannya gurih.
BalasHapusmbak Eka. masih harus banyak belajar dr njenengan ini.
HapusKeren. Mantap.
BalasHapussemoga dari yang semula merupakan keterpaksaan, dr keterpaksaan menjadi kebiasaan, dan selanjutnya dari kebiasaan menjadi kenyamanan. hingga akhirnya tiada pernah berhenti berkarya. terimakasih sekali pak Naim atas semua ilmu, inspirasi, bimbingan, dan motivasinya. mhon tidak pernah lelah membimbing kami.
Hapus