AKU, KAMU, DIA, MEREKA, KITA SEMUA ADALAH MANUSIA

Oleh Zulva Ismawati

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa fenomena lapangan yang diamati penulis. Kondisi kemajuan teknologi yang luar biasa canggih, kondisi kemajuan zaman yang demikian pesat, sangat disayangkan apabila tidak dibarengi dengan akhlakul karimah. Penulis disini bukan berarti orang yang alim luar biasa, hingga akhirnya sama sekali tidak memiliki salah dan khilaf. Karena penulis juga merupakan manusia biasa yang masih sangat miskin ilmu, namun demikian mari kita belajar bersama dan saling mengingatkan satu sama lain. 

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dalam wujud yang paling sempurna. Seperti disebutkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an surat At-Tiin ayat 4, bahwa manusia diciptakan Allah dalam bentuk paling sempurna. Kesempurnaan bentuk ini, membuat manusia menjadi khalifah dibumi. Manusia dianugerahi Allah akal dan budi. Manusia dianugerahi Allah dengan hawa nafsu, jasmani dan rohani, bumi dan segala isinya, dan anugerah yang lainnya yang tidak terhitung lagi banyaknya. 

Dalam kesempurnaan bentuk manusia. Manusia juga diciptakan Allah dalam keadaan yang unik. Dengan keunikan masing-masing manusi memiliki ciri khas tersendiri. Baik dari fisiknya dimana tidak ada satu orang pun didunia memiliki bentuk fisik yang persis serupa, meski kembar sekalipun. Selain fisik, keunikan juga ada dalam sisi psikologi. 

Ada beberapa jenis karakter manusia, mulai dari baik, kurang baik, halus, kurang halus, agak kasar, sensitive, cuek, mudah gaul dan sebaliknya, pendiam dan sebaliknya dan lain sebagainya. Ada pula istilah lain dalam ilmu psikologi, yakni multiple intelligence atau kecerdasan majemuk. Dimana setiap orang bisa jadi memiliki jenis kecerdasan yang berbeda, dengan tingkat yang berbeda pula. Dan demikianlah manusia memang unik. Dari sisi ekonomi manusia juga terdapat strata sosial tersendiri, dimana ada orang sangat kaya, kaya, cukup, miskin, sangat miskin, dan ini pula juga menjadikan manusia itu unik. Antara satu dan lain tidak ada yang sama. Namun kesamaan akan mungkin terjadi dari beberapa sisi, namun pasti tidak di semua sisi.

Karena keunikan yang dimiliki manusia ini, membuat kita sebagai manusia bisa hidup saling melengkapi, saling membantu, dan menciptakan harmoni hubungan yang indah antara satu manusia dengan manusia yang lain. Namun dari harmoni ini, tak jarang pula mungkin muncul bumbu penyedap yang mungkin terjadi diantara manusia apabila terjadi ketidak cocokan. Adanya ketidak samaan bisa menjadi bumbu penyedap, namun sangat mungkin pula adanya ketidak samaan menjadi boomerang permusuhan atau bahkan perpecahan. Hal ini semua adalah tergantung dari bagaiamana seseorang menyikapi akan perbedaan tersebut.

Suatu perbedaan apabila ditonjolkan dan semakin ditonjolkan tentu akan membuat tidak nyaman. Demikian pula sebaliknya adanya perbedaan, apabila satu sama lain juga mau saling menyadari adanya perbedaan, dan bisa menerima, maka kemungkinan masalah, cek-cok antar keduanya, perpecahan akan sangat mungkin dihindari. Perbedaan adalah rahmad. Perbedaan dalam segi apapun. Hal ini mungkin mudah untuk diucapkan namun mungkin agak sulit dilakukan. Namun setidaknya kita sebagai manusia biasa yang tentu banyak salah dan khilaf, sebisa mungkin melakukan yang terbaik demi kebaikan semua. 

Sangat baik apabila kita bisa memahami tupoksi masing-masing. dan satu lagi akan sangat baik apabila kita semakin menanamkan rasa atau fikiran atau kata-kata “ohhhh yooo… dia memang…. Dia memang …. Dan dia memang lainya…”. Misal itu ada kurangnya, maka mari kita bersyukur karena kita tidak demikian atau kita lebih baik. Namun misal sebaliknya, apabila ternyata kita yang kurang baik, maka akan sangat baik untuk kita juga memperbaiki diri, satu hal, asal jangan minder, namun kekurangan tersebut kita jadikan penyemangat untuk menjadi lebih baik.

Dari sekian hal perbedaan tersebut, ternyata setiap manusia memiliki kesamaan yaitu setiap orang selalu ingin dihargai dan dihormati, setiap manusia ingin diakui keberadaannya, setiap orang ingin diakui prestasinya. Diakui atau tidak, ini benar, dan hasil penelitian memang menyatakan demikian. Namun memang tingkatan levelnya berbeda-beda, karena kembali lagi manusia itu unik. Maka termasuk cara menanggapi anggapan seseorang terhadap dirinya pun berbeda-beda. Ada yang tipikel pemikir, sensitive, ada pula yang cuek dan malas untuk memikirkan hal-hal yang mungkin dia anggab tidak penting untuk difikirkan, macam-macam mamang tipikel manusia, iya, karena memang unik dan benar-benar unik. 

Belajar dari hal-hal diatas, ada suatu statemen bagus menurut saya yaitu belajar memanusiakan manusia. Suatu konsep yang sangat sederhana, namun besar sekali imbasnya apabila kita, semua orang bisa melakukan yaitu memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia ini bukan hanya yang nampak dari segi luarnya saja, namun juga dari dalam. Suatu semangat yang muncul dari dalam diri yang dimulai dari kesadaran pribadi insyaAllah akan membawa dampak yang luar biasa besar dalam diri setiap orang serta orang-orang yang ada disekitarnya. 

Bentuk penghormatan dengan memanusiakan manusia ini, adalah kita benar-benar menerapkan dalam hati kita, bahwa dia, si-A kayak apapun dia, miskin, kaya, hitam, putih, jabatannya apapun, kita semua adalah sama, yaitu manusia. Dan semua manusia dihadapan Allah adalah sama. Dan yang membedakan hanya iman dan taqwa dari manusia tersebut saja. Semua adalah milik Allah, dan apakah pantas kita untuk menyombongkan diri, seakan akan kita lebih dari yang lain sehingga kita merendahkan yang lainnya. Aku, kamu, dia, mereka, kita semua adalah manusia yang memiliki kedudukan yang sama dihadapan Allah.

Semakin tinggi ilmu seseorang, tingkatan memanusiakan manusia yang dimiliki oleh seseorang adalah berbeda dan tentu pasti lebih baik. Ilmu bukan berarti adalah harus bergelar sarjana tinggi sama sekali bukan. Ilmu disini adalah ilmu memahami ciptaan Allah dan ilmu mamanusiakan manusia. Maka akan sangat mungkin seseorang yang tidak sekolah sekalipun memiliki keilmuan ini, atau bahkan sebaliknya. Sebagai manusia biasa, tentunya kita hanya berusaha sebaik mungkin. Selebihnya kita hanya bisa pasrah kepada Allah. 

Namun tidak jarang pula ternyata seseorang belum bisa menerima dan menyikapi penghargaan yang diberikan orang lain kepada dirinya. Bahasa jawanya “diwehi ati ngrogoh rempelo”. Sangat unik memang, karena ternyata memang ada seseorang yang dihormati seseorang namun dia malah melambung hingga sombong yang kemudian malah besikap ujub. Memahami tupoksi memang sangat penting, iya, kita semua sebagai manusia biasa tentu masih banyak kekurangan, sampai salah satu hadits nabi menjelaskan menuntut ilmu dari buaian sampai keliang lahat. Karena saking pentingnya bagi seseorang untuk belajar, dan terus belajar, tentang apa pun

Satu hal yang penting dalam konsep memanusiakan manusia, bahwa siapapun kita, kita adalah sama dihadapan Allah. Tidak ada yang lebih satu dengan yang lainnya. Namun demikian, kita pula harus memahami posisi dan kedudukan kita. Bahasa sederhananya tahu diri. Hal ini sangat penting untuk di ingat dan ditancapkan dalam-dalam. Bagaimana cara kita berhadapan dengan seseorang yang lebih tua, lebih muda, bagaimana cara berjalan dihadapan mereka, bagaimana cara ngomong, bagaiamana cara kita komunikasi, bagaimana cara kita memperlakukan orang lain dan lain sebagainya. Ketika kita tidak mau disakiti, maka jangan pernah menyakiti. Ketika kita tidak mau di cubit, maka jangan mencubit. 

Dalam bercanda sekalipun, bagaimanapun jangan kemudian kita bercanda dengan perkataan yang membuly, menyakiti, karena setiap orang memiliki hati dan perasaan yang itu akan terluka apabila ada yang melukai. Terlepas orang tersebut tipikelnya apapun sensitive, perasa, cuek atau bagaimana pun. Mari kita saling menghormati. Apapun pekerjaannya, apapun latarbelakangnya kita semua adalah manusia. Dan mari kita memanusiakan manusia lainnya. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan semoga kita semua selalu diberikan Allah keselamatan dimanapun kita berada.


Sambirobyong-Tulungagung

Kamis, 13 Agustus 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAWALI HARI DENGAN SELALU BERSYUKUR

Sekedar mengingat masa lalu, dan mencoba menilik masa kini

Pentingnya Pendidikan, Pengajaran, dan Pembiasaan Sejak Dini