MAU, TAPI BELUM MAMPU

 

Oleh: Zulva Ismawati

Judul ini penulis ambil dari salah satu penuturan Ibu Nurul Chomaria tentang salah satu kuadran seorang penulis dalam webinar yang merupakan salah satu rangkaian acara KOPDAR SPK yang ke-6. Dalam hidupnya, seseorang pasti memiliki cita-cita atau keinginan yang ingin diwujudkan. Termasuk salah satunya adalah keinginan untuk menjadi seorang penulis. Bahagia sekali tentunya apabila seseorang bisa menggapai apa yang dicita-citakannya. 

Menjadi seorang penulis pemula tentu bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya menulis satu kalimat, bahkan menulis satu kata saja bisa jadi buntu dan berhenti begitu saja tanpa mengetik satu huruf pun di depan layar computer yang sedang menyala dan keyboard yang melambai-lambai. Atau bisa jadi penulis pemula akan mengetik satu kata/dua kata/bahkan satu kalimat, namun selang beberapa detik setelah memperhatikan tulisannya kembali, banyak sekali penulis pemula yang kemudian menekan tombol backspace, dan hasilnya layar computer itu bersih. Hal ini tidak berhenti disini saja, karena hal ini akan sangat mungkin terjadi beberapa kali dan akan sangat mungkin pula sampai tidak terhitung jumlahnya.

Selain berkaitan dengan tulisan yang masih dalam proses berfikir, pengolahan kata-katanya, ide tulisannya, seorang penulis pemula juga banyak dibayang-bayangi dengan ketakukan yang bisa saja muncul dan terlintas atau bahkan selalu terlintas.  Sebagai contoh, misalnya bagaimana nanti kalau tulisannya dibaca orang lain, dibaca temannya, dibaca oleh orang yang lebih ahli, belum nanti mendapat komentar baik atau tidak, atau bahkan rasa malu yang memang sudah membayang-bayangi sebelumnya. 

Penulis teringat  dengan apa yang pernah diajarkan oleh Dr. Ngainun Naim disalah satu kelas yang pernah penulis ikuti, kalau tidak salah beliau pernah dawuh, : “Pokok e nulis saja”. Ungkapan singkat namun sangat mengena ini apabila dipraktekkan ternyata memang akan bisa menimbulkan dampak yang berbeda. Apapun ide yang ada ditulis saja, bahkan ketika buntu sekalipun, ditulis saja apa yang ada didalam isi kepala kita maka tuangkan saja didalam tulisan. 

Dalam hal ini seingat penulis, saat itu beliau sertai dengan memberi contoh menulis beberapa kalimat, kalau tidak salah kalimatnya berbunyi kira-kira sebagai berikut, : "Saya tidak tahu dan saya bingung tidak tahu harus menulis apa, kenapa saya bingung saya tidak tahu....dst". Dan benar ternyata secara tidak sadar, seseorang tersebut telah belajar menulis. Poin intinya adalah kita berusaha dan membiasakan dan menggerakkan jari-jari kita dan belajar menulis.  Dan demikan beliau berkeyakinan kemampuan yang diasah sedikit demi sedikit, terus-menerus lama kelamaan akan menjadi bagus dengan sendirinya. Aaamiiin. Beliau memang luar biasa dalam mengajarkan menulis dan memang beliau menjadi inspirasi bagi banyak sekali penulis lainnya, termasuk disini adalah penulis sendiri.

Berkaitan dengan hal ini diperkuat oleh Ibu Nurul Chomaria, seperti yang kita tahu beliau penulis aktiv dan produktif, Ibu Nurul juga menyampaikan, :"Pokok e nulis". dengan disertai dengan ide-ide tulisan yang dengan istilah PEKA yang seperti telah penulis sampaikan ditulisan sebelumnya. Maka bagi penulis pemula Pokok e nulis, dan mulailah menulis. Hal ini sebagai pengingat bagi penulis sendiri tentunya. Selain selalu berharap dan berusaha semoga kedepan hingga akhirnya bisa menjadi penulis yang memiliki kualitas seperti yang disampaikan oleh beliau Gus Ulil, yang profesional dan memiliki karakter, yang ideal (semoga). 

Bagi para penulis pemula tentu banyak yang memiliki pengalaman berbeda-beda. Namun belajar dari pak Ngainun Naim juga, beliau sering berpesan, : “Jangan menulis sambil mengedit, menulis ya menulis, mengedit ya mengedit”. Dan saat itu terlihat hampir satu kelas sampai menganggukkan kepala sambil tersenyum kecil, yang tentu saja menandakan itu pula yang kami alami. Apalagi saat beliau menggambarkan, “Ketika ada seseorang menulis sambil mengedit, setelah mengetik beberapa kata, selang beberapa detik memperhatikan tulisannya kembali, dan dihapus kembali, dan bolak-balik demikian, wal hasil layar bersih tanpa satu kata pun”. Tentu saja seketika senyum kami semakin lebar dan tertawa bersama-sama. Kelas terasa santai dan sangat enak, begitulah suasana tat kala beliau mengajar. 

Berkaitan dengan rasa takut, ucapan terimakasih tentunya juga kami sampaikan kepada Gus Ulil Abshor Abdala, seseorang yang keren dan luar biasa tentunya. Dalam kesempatan Webinar dalam KOPDAR kemarin dan dengan pembawaan yang sangat santai namun sangat luar biasa penuh makna, beliau mengingatkan kepada kami semua untuk tidak merasa takut untuk diberi komentar/dikritik, karena komentar/kritik akan bisa membuat kita menjadi lebih baik. Hal ini dirasa sulit oleh penulis disini, hal ini karena memang mungkin dirasa diberikan kritik, diberikan komentar tentu tidak enak rasanya pasti. Namun setelah penulis mencoba menganalisa memang benar, lebih baik mengetahui salahnya dari pada tidak mengetahui.

Ungkapan Gus Ulil diatas dikuatkan oleh Prof. Khirdzin. Dalam KOPDAR hari ke-2 Prof Khirdzin mengungkapkan bahwa kritikan itu bukan menjelekkan, meski memang tentang kejelekan. Penulis berharap apa yang penulis tulis ini sedikit banya bisa bermanfaat, dan semoga ada yang berkenan membaca dan berkenan memberikan saran dan komentar (meski jujur masih ada H2C, harap-harap cemas). Untuk itu penulis sampaikan sebelum dan sesudahnya.

Hal yang juga menambah kuat penulis disini adalah pesan Pak Ngainun Naim kembali sebelum acara KOPDAR, “Niat cari ilmu, niat ibadah, niat nulis”.  Maklum sekali, karena Penulis disini sudah bukan orang muda lagi, namun melihat para anggota SPK Tulungagung yang dari berbagai profesi dan berbagai usia yang sangat keren-keren luar biasa semangat dan menginspirasi. Dari sini pula, penulis merasa ikut tertulari semangat beliau semua untuk belajar lebih, mengingat masih sangat minimnya kemampuan yang dimiliki oleh penulis sendiri. Terimakasih kepada semua anggota group SPK Tulunggagung, njenengan semua keren. 

Apapun yang telah penulis sampaikan diatas tidak jauh adalah dari judul yang penulis ambil, yaitu MAU, TAPI BELUM MAMPU. Disini penulis sebagai penulis pemula, meski jujur sebenarnya dalam tulisan ini menyebut diri sebagai penulis pemula pun sepertinya belum pas dan masih ada rasa takut dan seakan belum pantas. Dan ini semua tidak lain adalah semata karena adanya ke-MAU-an untuk belajar menjadi seperti beliau-beliau para ahli literasi/para ahli menulis dan bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Dari sini penulis teringat juga dengan ungkapan, mencoba memantaskan diri, mencoba memantaskan diri untuk belajar dari orang-orang yang memang ahli menulis. 

Banyak sekali motivasi tentang pentingnya adanya ke-Mau-an untuk dimiliki seseorang dalam mencapai sesuatu. Ambilah contoh, you can do it if you want, yang artinya kamu bisa melakukannya jika kamu menginginkannya.  If there is a will there is a way, yang artinya jika ada kemauan, maka ada jalan. Beberapa ungkapan ini menambah kuat kayakinan penulis sebagai penulis pemula yang masih awam sekali dengan dunia literasi, bahwa ketika kita Mau dan Mau belajar insyaAllah kita akan bisa, meski nanti seberapa persen keberhasilan yang dimiliki (penulis disini sambil tersenyum kecil, mengingat yang disampaikan gus ulil tentang kualitas sebuah tulisan dan guyonan pak Naim tentan mengangan-angan penulis idola dan berapa persen kira-kira bisa seperti beliau yang diidolakan, karena Bagi penulis disini mungkin masih terasa jauh terlihatnya). 

Dalam islam seperti yang kita fahami kita diajarkan untuk Yakin dan Percaya, berprasangka baik kepada Allah (Khusnudzan kepada Allah), pantang menyerah, percaya diri, dan hingga akhirnya if you believe it, you can get it, yang artinya jika kamu yakin dan percaya maka kamu akan bisa meraihnya. Meskipun hal-hal tersebut mudah diucapkan dan terlihat sulit diparkatekkan, maka berusaha sebaik mungkin itulah yang bisa kita lakukan.

Selain tentunya dukungan komunitas juga sangat penting pengaruhnya. Kalau ngaji zaman kecil dulu, teringat pesan pak kyai, kekancan kaleh priantun apik iso ketularan apik (yang dalam bahasa indonesianya artinya berteman dengan orang baik akan bisa ikut menjadi baik), kekancan kaleh priantun berjualan minyak wangi akan ketularan wangi (yang dalam bahasa indonesianya berteman dengan orang berjualan minyak wangi akan bisa ikut wangi), dan demikian pula sebaliknya berteman dengan orang kurang baik maka akan mungkin ketularan kurang baik. 

Kalau dalam syiir tombo ati salah satunya menyebutkan wong kang shalih kumpulono, yang berarti apabila kita mau menjadi shalih maka berkumpulah pula dengan orang shalih. Untuk itu penulis merasa beruntung sekali bisa bergabung dengan komunitas yang luar biasa disini, komunitas ahli penulis. Sebagai penulis pemula tentu penulis disini berharap sekali bisa ketularan kehebatan para ahli literasi dalam komunitas ini.

Tulisan penulis yang mungkin masih jauh dari kata bagus ini semoga bermanfaat. Terutama bagi para penulis pemula, mari kita belajar, belajar menulis, dan mari kita menulis. Kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis tunggu. 


Tulungagung, 07 Februari 2021

Zulva Ismawati

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAWALI HARI DENGAN SELALU BERSYUKUR

Sekedar mengingat masa lalu, dan mencoba menilik masa kini

Pentingnya Pendidikan, Pengajaran, dan Pembiasaan Sejak Dini