SELAMAT, KU UCAPKAN PADAMU
Oleh Zulva ismawati
Tanggal 30 Agustus 2021,
sekitaran sore pukul 17.00 WIB lebih sedikit. Berita baik dan membanggakan bagi
keluarga kami. Rasa dan ucap syukur Alhamdulillah tentu tidak lupa uuntuk
selalu kami haturkan atas segala nikmat, karunia, dan keberkahan yang
senantiasa Allah berikan kepada kami semua.
Kami adalah keluarga yang bernota
bene dari kalangan menengah kebawah, atau bahkan memang bisa dikatakan kalangan
bawah. Dengan Almarhum Bapak yang berlatar belakang petani di desa, ibu membuka
toko palen kecil dirumah. Kami 7 bersaudara dengan jarak usia yang terpaut cukup
dekat. Dari 7 bersaudara, kakak kami yang pertama sudah meninggal sejak masih
bayi. Sehingga selanjutnya kami adalah tinggal 6 bersaudara.
Dengan kondisi ekonomi keluarga
kami yang cukup minim, dengan jumlah keluarga yang cukup besar, bisa
dibayangkan bagaimana keadaan ekonomi keluarga kami tentunya. Uang yang
pas-pasan namun harus membiayai 6 anak dengan semua kebutuhan sehari-hari dan
kebutuhan pendidikannya.
Teringat benar, dulu ketika kami
semua masih cukup kecil, kakak pertama masih dibangku Aliyah, yang kebetulan
menempuh Pendidikan di Madrasah Aliyah Tribakti Kediri, yang diasuh Almarhum
Kyai Imam Yahya Mahrus, kala itu. Kemudian kakak kedua menempuh Pendidikan di
Pondok Pesantren Sumber Sari Kencong-Kediri. Kakak ketiga masih duduk dibangku
Madrasah Tsanawiyah Canggu-Pare-Kediri. Kakak keempat masih duduk dibangku
Sekolah dasar, sedangkan aku dan kakak kelima ku masih duduk dibangku Madrasah
Ibtidaiyah.
Setiap pagi kami sering diberi
sarapan nasi goreng dengan lauk kerupuk (kalau pas kebetulan ada). Kenapa nasi goreng, iya, karena nasi goreng adalah
yang paling memungkinkan untuk dimasak kala itu. Nasi yang dibuat nasi goreng
kami adalah nasi hari kemarin atau nasi semalam, yang apabila dibuang sayang,
namun kalau mau dimakan secara langsung juga terasa kurang enak (sudah agak
sedikit berair tanda akan basi atau sudah agak mengeras karena udara, maklum
kala itu penanak nasi modern atau yang
kita sebut rice cooker belum kami miliki). Hingga dari sini, muncul
inisiatif ibu kami, seorang wanita yang luar biasa dalam hidup kami, untuk
membuat nasi goreng. Dengan tujuan tentunya nasi hangat kembali dan minimal
bisa cukup baik kondisinya untuk dimakan. Selain itu, karena dengan nasi goreng
ibu tidak perlu bingung untuk membeli atau membuatkan lauk, karena memang nasi
goreng sudah memiliki rasa, minimal rasa asin dan gurihnya sudah ada. Sehingga
bisa dimakan. Ada kerupuk dan tempe iris yang dicampur kenasi goreng saja sudah
enak sekali menurut kami.
Makan nasi goreng dipagi hari,
rasa kebersamaan yang sangat indah dan bahagia. Meski mungkin dalam kondisi
yang cukup atau sangat minim. Dari menu nasi goreng dipagi hari, di siang atau
malam ibu sering juga memasak ikan gurami, lele, nila, tawes, dan ikan tawar
lainya, dari mana ikan ini berasal, iya, ikan ini dibawa oleh Bapak dari sawah,
karena memang pekerjaan beliau adalah petani. Alhamdulillah Bapak bekerja disawah
sendiri, dengan Bertani ikan dan Bertani tanaman palawija. Waktu panen dan
memang waktu ada, maka kami akan sering bisa makan-makanan yang cukup enak
dalam versi kami. Meski saya kurang suka dengan ikan mungkin saking seringnya
dibawakan ikan atau mungkin sudah asli memang tidak suka ikan. Tapi ikan kala
itu sudah bisa menjadi hidangan yang cukup bagus dan Alhamdulillah sering kami
nikmati. Selain ikan, hasil sawah dan kebun minimal cukup membantu perekonomian
dan suplay makanan kami semua, tentu dengan sebagain bahan makanan dan sayuran
juga tetap masih harus beli, mengingat tentunya Bapak tidak menanam semua
kebutuhan dapur pastinya.
Menginjak kami hampir dewasa,
kala itu tentu kebutuhan keluarga kami lebih banyak dan semakin meningkat, Baik
biaya hidup maupun biaya Pendidikan. Masih teringat betul, kala itu sekitar
tahun 1997 dimana kakak pertama akan di wisuda di Institut Agama Islam Kediri,
ibuk dan Bapak terlihat bingung untuk memenuhi biaya ujian akhir dan wisuda
kakak. Kala itu aku masih sekitar kelas 3 madrasah Ibtidaiyah, dan tidak
sengaja saat aku bermain dirumah, aku coba memperhatikan kondisi apa yang
terjadi hingga membuat kakak pertama ku menangis tiada henti dan Bapak-Ibu yang
terlihat bingung. Ternyata kala itu memang sudah agak siang, dan besok paginya
kakak harus sudah diwisuda, sedangkan kantor administrasi biasanya tutup jam
16.00 sore. Bisa dibayangkan detik-detik kala itu, dan jika hari itu tidak bisa
membayar maka kelulusan kakak pertama harus ditunda dulu untuk tahun depan.
Siang menginjak sore, senyum
dikakak pertama tiba-tiba terlihat kembali, demikian pula dengan Bapak-Ibu yang
sudah terlihat lega, dan memang syukur alhamdulillah kala itu ternyata ada
orang yang sangat baik meminjamkan uang kepada kedua orang tua kami hingga
akhirnya kakak ku bisa membayar uang akhir perkuliahan kala itu. Dan esok
paginya, alhmadulillah kakak pertama ku berhasil diwisuda S1 bersama dengan
teman seangkatannya yang lain dan dinyatakan sebagai sarjana.
Tidak lama setelah kakak pertama
diwisuda, ada info dari pemerintah bahwa pemerintah mengalami krisis moneter.
Krisis moneter aku sama sekali tidak faham apa artinya, yang kemudian setalah
dewasa ini lah baru lah faham apa itu krisis moneter. Yang aku ingat kala itu,
semua harga mulai dari bahan makanan, sandang, pangan, papan, semua melonjak
naik termasuk dengan biaya Pendidikan. Satu mangkuk bakso yang harganya Rp.
100,00 berubah menjadi Rp. 250,00 dan terus naik hingga Rp. 500,00 sangat mahal
sekali kala itu, dan sekarang bahkan lebih mahal lagi ada yang mencapai Rp.
8.000,00-Rp. 15.000,00. Beras yang awalnya hanya Rp. 750,00 menjadi Rp. 800,00
hingga akhirnya naik menjadi Rp. 1.500,00, dan naik sampai saat ini kualitas
baik kisaran Rp. 11.000,00 an perkilogram. Dan barang serta kebutuhan lainya
semua meningkat. Benar-benar bersyukur kakak ku sudah diwisuda sebelum krisis
moneter terjadi, mungkin jika tidak entah apa yang akan terjadi, mengingat kala
itu sebelum krisis moneter saja orang tua kami sudah cukup kesulitan untuk
memenuhi biaya Pendidikan.
Dari kisah wisuda kakak pertamaku
di atas, belum kebutuhan 5 saudara lainya termasuk aku disini tentu terus
berjalan. Kakak kedua ku alhamdulillah kala itu meski Mondok di Sumber Sari
Kencong Kediri, namun sudah bisa cukup mandiri dengan beberapa ternak ayam dibelakang
rumah dan usaha srabutan lain. Kakak ketiga Mondok di Pondok Pesantren Alfalah
Putri-Ploso Kediri, yang membutuhkan biaya cukup tinggi menurut kami kala itu.
Kakak keempat yang kemudia sekolah di Madrasah Aliyah yang masih termasuk
Yayasan Almahrusiyah di Kediri. Sedangkan aku dan kakak kelima ku masih duduk
dijenjang Pendidikan madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah.
Himpitan ekonomi terasa lebih
berat, kala itu setelah kakak keempat ku memulai Pendidikan di madrasah Aliyah,
dimana kala itu kakak akan berangkat mondok di Yayasan Al Mahursiyah Lirboyo
Kediri, kebutuhan kami bersaudara yang terus meningkat, dimana satu waktunya
masuk sekolah, satu waktunya lulus, satu waktunya menikah dan segala
pernak-pernikmya. Namun Alhamdulillah akhirnya meski dengan kondisi cukup
tertatih sebenarnya namun alhamdulillah berhasil Bapak-Ibu dan kami semua
lewati.
Teringat kala itu, alhamdulillah
dari aku dan kakak kelima ku sekolah Madrasah Ibtidaiyah, alhamdulillah tidak
pernah membayar SPP karena mendapatkan beasiswa, teringat benar kala itu karena
kami keluarga cukup besar dengan 6 bersaudara, maka ada kebijakan dari sekolah
kami, dimana apabila ada 3 bersaudara sekolah sekaligus di Madrasah Ibtidaiyah
kami, maka yang paling akhir tidak akan dikenakan biaya SPP, dan alhmadulillah
ini cukup meringankan keluarga kami. Dan alhamdulillah juga setelah kakak-kakak
ku lulus dari Madrasah ini, kami pun tidak lantas berjumlah 3 bersaudara, aku
dan kakak kelima ku mendapatkan beasiswa prestasi (sebutanya rangking kala itu)
dan biaya SPP kami pun dibebaskan dan alhamdulillah ini berjalan sampai duduk
dibangku Madrasah Aliyah Negeri. Kami sangat bersyukur minimal kami bisa
sedikit meringankan beban Bapak dan Ibuk dan bisa fokus ke biaya Pendidikan
saudara kami yang lain.
Masih tentang kakak keempatku,
selesai Pendidikan di Madrasah Al Mahrusiyah, kakak berlanjut belajar Bahasa
Inggris dan Bahasa Arab di Pare dan tidak langsung keperguruan tinggi, karena
memang belum ada biaya. Sangat semangat, dan terlihat kakak ku yang ini memang
lancar sekali berbicara baik Bahasa Iggris maupun Bahasa Arab. Iya, kakak ku
yang ini memang suka sekali dengan Pendidikan Bahasa. Dan ketika kutanya kala
itu, kenapa harus les di Pare, kakak ku menuturkan, bahkwa kedepan Bahasa pasti
akan dibutuhkan dan pasti akan bermanfaat. Dan dari kakak ku ini aku pun mulai
terinspirasi untuk juga belajar Bahasa. Terkait les di Pare Alhamdulillah,
untuk biaya kursus disini tidak begitu banyak, karena kakak ku ini tidak perlu
biaya kos dan biaya makan, karena semua itu sudah tercover dari rumah, maklum
jarak rumah kami ke kursusan di Pare memang tidak begitu jauh. Sehingga selama
kursus di Pare ini Kakak menempuh dengan pulang pergi sesuai arahan Bapak.
Kursus dimana saja, atau program
apasaja, yang aku tahu kakak ku ini mengambil beberapa program Bahasa, di
bebarapa lokasi juga. Selesai kakak keempat ku ini lulus dari Kursusan di Pare,
Kakak mulai matur ke Bapak-Ibu untuk meminta ijin kuliah. Tentu saja kedua
orang tua kami waktu itu terperanga dan terdiam belum bisa menjawab. Kenapa
tidak jalur beasiswa, iya karena di sekitar tahun 2002 jalur beasiswa
Pendidikan masih sangat sulit kami jangkau, jauh dengan kondisi saat ini tahun
2020an. dan kala itu kakak keempat
memilih Pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Malang, dan pilihannya
jatuh hanya ke UIN Maliki Malang.
Mendengar kata Kota Malang, tentu
secara tidak langsung yang terbayang adalah kata Mahal. Dari info yang Bapak-ibu
dan kami tahu, baik biaya Pendidikan maupun biaya hidup di Kota tersebut sangat
tinggi dan jauh dari kata murah. Apalagi ketika kami mendengar kata UIN Maliki
Malang, sambil terdiam dan terlihat menghela nafas Panjang, beberapa hari
kemudian akhirnya Bapak-Ibu mengiyakan dan mengijinkan kakak keempat ku untuk
menempuh Pendidikan di kampus tersebut.
Dan meski dengan kondisi keuangan
yang sangat minim kala itu akhirnya kakak keempat ku berhasil menjadi salah
satu mahasiswa di kampus Islam negeri yang termasuk favorit di Malang ini. Teringat
benar, waktu itu Ibu dan Bapak meminta hutang kepada seseorang untuk digunakan
sebagai biaya daftar ulang dikampus tersebut. Bisa dibayangkan, mengawali
daftar ulang saja, sudah mulai berhutang.
Hari demi hari, beban Pendidikan
dikampus Malang ini semakin menghimpit kondisi ekonomi keluarga kami, selain beban
Pendidikan biaya hidup di Kota ini juga tidak sedikit. Belum kebutuhan saudara
kami yang lain tentunya. Dari mana biaya kuliah kakak selama ini? Sungguh
terharu ketika mengingat masa itu. Bapak-Ibu sering ditagih Bank, ditagih beberapa
orang, yang tentu mereka mendatangi rumah kami. masyaAllah luar biasa
perjuangan mereka. Sangat maklum dari ke 6 saudara kami kala itu, masih hanya
satu yang menikah, yaitu kakak pertama kami. Meski memang kakak pertama dan
kedua sudah mandiri, namun kebutuhan 4 bersaudara kami yang lainnya masih
sepenuhnya ada di Bapak dan Ibu, baik biaya Pendidikan, maupun biaya kebutuhan
sehari-hari kami.
Himpitan demi himpitan ekonomi
semakin terasa di keluarga kami, dan Pada akhir tahun ketiga, tepatnya mengijak
tahun terakhir jenjang perkuliah S1 kakak keempat ku di Malang ini. Waktu itu
kakak pertama ku sudah menikah, masih memiliki satu orang anak dan menjadi
salah satu pengajar di IAI Tribakti dan STAIN Kediri, Kakak kedua di Sumber
Sari, Kakak ketiga di Pondok Ploso, Kakak kelima mondok di PPHM Lirboyo Kediri,
dan aku masih duduk dikelas 3 Aliyah, kami mendaptkan musibah yang luar biasa
sangat mendalam.
Hari Raya idul fitri kala itu
Bapak masih menjadi imam sholat Ied, dan masih menerima tamu seperti biasanya.
Namun dihari ketiga Bapak mulai jatuh sakit. Tidak mengeluh sama sekali, karena
Bapak memang sosok pribadi yang tenang, sabar, dan sangat luar biasa dihati
kami. Tanpa mengeluh, hanya minta dipijat oleh tukang pijit langganan Bapak
kala itu, dan ketika ditanya beliau hanya menjawab capek, dan itu kami kira
capek seperti biasanya. Dan setelah dipijat Bapak akan sembuh sehat kembali.
Namun ada satu hal berbeda kala
itu, dan aku coba bertanya ke Bapak, kenapa dengan perut Bapak (kala itu perut
Bapak sudah terlihat kembung dan tidak mau kempes lagi), sudah dipijat kenapa
masih tiduran, dan sama sekali aku “tidak ngeh” dalam Bahasa jawa atau
tidak faham sama sekali kala itu dengan kondisi Bapak. Ternyata pada hari
keenam setelah Bapak di diagnose dokter beliau sudah terkena penyakit lever dan
ini sudah pada kondisi parah. Dan iya, tidak selang lama setelah Bapak masuk
rumah sakit, dari sekitar jam 07.00 WIB, pada pukul 12.00 WIB Bapak menghembuskan
nafas terakhirnya. Allah, kami sama sekali tidak menyangka. Baru kemarin kami diimai
sholat, baru kemarin kami tertawa bersama seperti tidak ada apa-apa, sama
sekali tidak mengeluh atau menampakkan rasa sakit. Rasa kaget, sedih, duka
mendalam, serasa tidak percaya bercampur aduk di hari itu. MasyaAllah sungguh
Bapak adalah orang baik, semoga diberikan “padang lan jembar kuburipun” (terang
kuburnya, lebar kuburnya), aaamiiin.
Dari kedukaan diatas, atas
meninggalnya Bapak, tentu sangat mempengaruhi keluarga kami, mulai dari ibuk
apalagi dan saudara kami ber enam. Namun bagaimana lagi, Bapak sudah mendahului
kami semua, dan sudah meninggalkan kami untuk selamanya, iya, tidak akan pernah
kembali lagi. Dan dengan perasaan dan langkah berat pasti, kami harus
melanjutkan hidup dan menghadapi kehidupan. Kami harus terus berjalan dan
menyusuri perjalanan kehidupan kami yang saat itu masih berada di bangku
Pendidikan. Meski dengan perasaan yang berat dan berat. Bismillah, akhirnya
kami mencoba hidup dan Bapak akan selalu dalam ingatan dan hati kami.
Tidak selang lama setelah Bapak
meninggal, Kakak ku yang kuliah di Malang akan ujian akhir Skripsi, dan kala
itu aku akan menghadapi ujian akhir nasional Madrasah Aliyah Negeri. Rasa berat
masih ada dalam hati atas kepergian Bapak. Namun ujian harus tetap dihadapi.
Selain dari himpitan ekonomi kala itu yang semakin menjadi. Dimana kebutuhan
Pendidikan kami 4 bersaudara cukup tinggi. Terlihat ibuk yang tidak begitu
doyan makan, yang tentu masih sedih atas kepergian Bapak, namun harus tetap
mencukupi dan menjadikan kami orang yang benar, dalam hal ini menyekolahkan
kami di Pendidikan lanjut.
Dengan tertatih dan hutang
sana-sini, dan dengan kebutuhan biaya kakak keempat yang akan lulus S1 di UIN
Malang yang tentu dengan biaya tidak sedikit. Dan dengan biaya hidup di Kota
Malang yang cukup tinggi pasti. Dengan usaha Ibuk sebagai orang tua tunggal
kala itu, hutang tentunya yang masih bisa ibuk lakukan kala itu. Namun meski
demikian benar-benar Syukur Alhamdulillah, akhirnya kakak keempat ku ini
berhasil diwisuda.
Rasa haru dan tangis pun pecah
disaat melihat kakak keempat ku ini berjalan beriringan dengan wisudawan lain,
memasuki ruang wisuda. Tiba saatnya sesi pemindahan kucir, dipanggilah nama kakak ku oleh host dan tentu nama kakak
ku ini diikuti dengan nama kedua orang tua, yaitu nama Ibu dan nama Almarhum
Bapak. MasyaAllah Bapak sudah tidak bisa ikut hadir dan menyaksikan anaknya
yang berjuang dengan tertatih di kota besar Malang, karena memang Bapak sudah
dipanggil oleh Allah.
Rasa haru biru kala itu, semakin pecah tat kala
terdengar informasi dari Bapak Rektor bahwa kakak keempatku ini berhasil
menyandang predikat cumlaud Jurusan Sasta Arab, serta menyandang predikat
terbaik, dan diberikan beasiswa kuliah S2 gratis di UIN Malang. Linangan air
mata bahagia kami sudah tidak dapat dibendung lagi kala itu, teringat jelas
bagaimana perjuangan Bapak-dan Ibu demi mewujudkan dan menjadikan sukses
anak-anak mereka yang tentu sangat berat yang kemudian disertai dengan
kepergian Bapak untuk selamanya. Selain tentu kami teringat pula dengan
perjuangan kakak keempat ku yang luar biasa berat, seorang anak kampung, dari
desa terpencil, dari seorang petani dan pedagang kecil, namun dengan semangat
yang tinggi untuk bisa berhasil di Kota Besar Malang ini. Dan Alhamdulillah
MasyaAllah, berhasil menjadi wisudawan terbaik dan mendapatkan beasiswa studi
S2. Kami pun menangis bahagia Bersama. Terimakasih alhamdulillah ya Allah atas
segala nikmatmu kepada kami.
Mendapatkan beasiswa kuliah
Pendidikan Sastra Arab di Pasca Sarjana UIN Maliki alhamdulillah sangat kami
syukuri. Dari sinilah kakak di Malang ku ini pun akhirnya sudah mulai bisa mandiri
dan sudah tidak meminta kepada Ibuk atas biaya hidup maupun biaya Pendidikannya.
Sedikit cerita, sebenarnya kakak ku ini sudah mulai belajar mandiri dari sejak
semester sekitar 2, dengan mengajar disalah satu Sekolah Dasar Islam terpadu
dan menjadi guru les privat di Kota Malang ini. Namun karena mungkin kebutuhan
yang terlalu tinggi akhirnya kakak masih membutuhkan bantuan Bapak dan Ibu kala
itu dalam menyelesaikan Pendidikan S1 kala itu.
2 tahun kemudian setelah kakak
keempatku ini menempuh Pendidikan gratis di S2 Jurusan sastra Arab UIN Malang,
Kakak ku inipun berhasil diwisuda S2 dan menyandang predikat Magister Humaniora,
S2 Sastra Arab. Ketika wisuda S2 pun kami sekeluarga datang dan menyaksikan
hari bersejarah dan mengharukan ini. Teringat benar perjuangannya selama
menempuh Pendidikan S1, ibu dan Bapak hutang kesana-kemari demi memenuhi
tuntutan biaya hidup dan Pendidikan di Kota Malang yang tidak sedikit. Tangis
kami pun pecah kembali teringat almarhum Bapak yang Sudah tidak Bersama kami
selain hanya dihati, semakin haru tat kala melihat Saudara keempat ku in, kakak
ku ketika di panggil maju kedepan untuk pemindahan kucir wisuda S2 dengan nama
Ibu dan Almarhum Bapak yang tentu disebut. Rasa semakin haru dan tidak tertahan
lagi, ketika terdengar pengumuman yang dibacakan oleh Bapak Prof. Imam
Suprayogo, Rektor UIN Maliki kala itu, dimana kakak keempat ku ini dinyatakan kembali
sebagai mahasiswa terbaik dan memperoleh beasiswa Pendidikan S3, Program
Doktoral di Pasca Sarjana UIN Maliki Malang. Sungguh luar biasa nikmat yang
besar bagi keluarg kami. Bangga sekali kami kepadamu Kakak, dan Bangga sekali
kami atas semua perjuangan kalian, Ibu dan Almarhum Bapak.
Lulus S2, kakak keempat ku ini
kemudian diminta menjadi salah satu tenaga pengajar di UIN Maliki Malang, dan
alhamdulillah beberapa tahun kemarin tepatnya aku lupa tahun berapa, kakak
diangkat menjadi salah satu ASN Dosen di UIN Maliki ini. Alhamduillah, selamat,
dan luar biasa sekali perjuangan dan pencapaianmu kakak. Dan 3 tahun setelah
kakak ku menempuh Pendidikan doctoral jurusan Sastra Arab di Pasca sarjana UIN
Maliki ini, kakak ku berhasil menyandang gelar Doktor yang dituliskan didepan
Namanya. Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah. Kami turut bangga dan senang
sekali atas semua prestasimu.
Pendidikan S1 dengan perjuangan
haru biru, tangis, dan Lelah, dilanjutkan dengan hadiah beasiswa S2 yang
dilanjutkan S3, dan ASN Dosen, alhamdulillah keluarga kami bangga sekali
padamu, Selamat, dan tepat kemarin, 30 Agustus 2021, untuk jam aku kurang tahu
pasti, tapi yang jelas pagi hari, kakak keempat ku dipercaya menjadi seorang
kepala prodi, jurusan yang selama ini dia belajar disana, jurusan Sastra Arab,
UIN Maliki Malang. Selamat kakak, selamat ku ucapkan padamu. Meski jarang
bertemu, karena saat ini kami hidup dikota yang berbeda, kebahagianmu selalu
menjadi kebagaiaan kami semua. Teriring doa semoga selalu sukses dan bertambah
sukses, dan selalu bahagia. Kurindukan masa-masa kecil yang selalu tertawa
riang bersamamu. Semoga kami semua, dan semua keponakanmu bisa menirukan
semangat dan keberhasilanmu.
Kakak ku, selamat, selamat ku
ucapkan kepadamu. Selamat juga kepada ibu kami, wanita yang luar biasa hebat,
perjuanganmu untuk kami sangat luar biasa, terlebih atas sepeninggalan Bapak,
Ibu telah menjadi Bapak dan sekaligus Ibu bagi kami semua. Dan semoga Almarhum
Bapak, diparingi khusnul khotimah, diampuni segala hilaf dan dosanya, dan dipun
paringi jembar dan padhang kubure. Aaamiiin. Sungguh Bapak adalah orang baik,
dan Bapak akan selalu ada di hati kami.
Tulungagung, 2 September 2021

Luar biasa bu, sungguh inspiratif. Kalau kita benar-benar serius dalam menuntut ilmu maka jalannya akan terbuka sendiri.
BalasHapusaaamiiin aaamiiin,. pangestunipun Pak Hamim🤲 mtr swn sanget
BalasHapusMasya Allah Sangat menginspirasi bu. Semoga njenengan beserta keluarga selalu dalam kasih sayang_Nya aammiinn. 🤲🤲
BalasHapusaaamiiin aaamiiin aaamiiin, mtr swn sanget🤲
HapusAamiin ya Rabb. Selamat atas segala kesuksesan kakak. Semoga membawa keberkahan bagi keluarga dan lembaga.
BalasHapusaaamiiin aaamiiin aaamiiin mtr swn sanget
Hapus