SELAMAT, KU UCAPKAN PADAMU

 

Oleh Zulva ismawati


Tanggal 30 Agustus 2021, sekitaran sore pukul 17.00 WIB lebih sedikit. Berita baik dan membanggakan bagi keluarga kami. Rasa dan ucap syukur Alhamdulillah tentu tidak lupa uuntuk selalu kami haturkan atas segala nikmat, karunia, dan keberkahan yang senantiasa Allah berikan kepada kami semua.

Kami adalah keluarga yang bernota bene dari kalangan menengah kebawah, atau bahkan memang bisa dikatakan kalangan bawah. Dengan Almarhum Bapak yang berlatar belakang petani di desa, ibu membuka toko palen kecil dirumah. Kami 7 bersaudara dengan jarak usia yang terpaut cukup dekat. Dari 7 bersaudara, kakak kami yang pertama sudah meninggal sejak masih bayi. Sehingga selanjutnya kami adalah tinggal 6 bersaudara.

Dengan kondisi ekonomi keluarga kami yang cukup minim, dengan jumlah keluarga yang cukup besar, bisa dibayangkan bagaimana keadaan ekonomi keluarga kami tentunya. Uang yang pas-pasan namun harus membiayai 6 anak dengan semua kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan pendidikannya.

Teringat benar, dulu ketika kami semua masih cukup kecil, kakak pertama masih dibangku Aliyah, yang kebetulan menempuh Pendidikan di Madrasah Aliyah Tribakti Kediri, yang diasuh Almarhum Kyai Imam Yahya Mahrus, kala itu. Kemudian kakak kedua menempuh Pendidikan di Pondok Pesantren Sumber Sari Kencong-Kediri. Kakak ketiga masih duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah Canggu-Pare-Kediri. Kakak keempat masih duduk dibangku Sekolah dasar, sedangkan aku dan kakak kelima ku masih duduk dibangku Madrasah Ibtidaiyah.

Setiap pagi kami sering diberi sarapan nasi goreng dengan lauk kerupuk (kalau pas kebetulan ada). Kenapa  nasi goreng, iya, karena nasi goreng adalah yang paling memungkinkan untuk dimasak kala itu. Nasi yang dibuat nasi goreng kami adalah nasi hari kemarin atau nasi semalam, yang apabila dibuang sayang, namun kalau mau dimakan secara langsung juga terasa kurang enak (sudah agak sedikit berair tanda akan basi atau sudah agak mengeras karena udara, maklum kala itu penanak nasi modern  atau yang kita sebut rice cooker belum kami miliki). Hingga dari sini, muncul inisiatif ibu kami, seorang wanita yang luar biasa dalam hidup kami, untuk membuat nasi goreng. Dengan tujuan tentunya nasi hangat kembali dan minimal bisa cukup baik kondisinya untuk dimakan. Selain itu, karena dengan nasi goreng ibu tidak perlu bingung untuk membeli atau membuatkan lauk, karena memang nasi goreng sudah memiliki rasa, minimal rasa asin dan gurihnya sudah ada. Sehingga bisa dimakan. Ada kerupuk dan tempe iris yang dicampur kenasi goreng saja sudah enak sekali menurut kami.

Makan nasi goreng dipagi hari, rasa kebersamaan yang sangat indah dan bahagia. Meski mungkin dalam kondisi yang cukup atau sangat minim. Dari menu nasi goreng dipagi hari, di siang atau malam ibu sering juga memasak ikan gurami, lele, nila, tawes, dan ikan tawar lainya, dari mana ikan ini berasal, iya, ikan ini dibawa oleh Bapak dari sawah, karena memang pekerjaan beliau adalah petani. Alhamdulillah Bapak bekerja disawah sendiri, dengan Bertani ikan dan Bertani tanaman palawija. Waktu panen dan memang waktu ada, maka kami akan sering bisa makan-makanan yang cukup enak dalam versi kami. Meski saya kurang suka dengan ikan mungkin saking seringnya dibawakan ikan atau mungkin sudah asli memang tidak suka ikan. Tapi ikan kala itu sudah bisa menjadi hidangan yang cukup bagus dan Alhamdulillah sering kami nikmati. Selain ikan, hasil sawah dan kebun minimal cukup membantu perekonomian dan suplay makanan kami semua, tentu dengan sebagain bahan makanan dan sayuran juga tetap masih harus beli, mengingat tentunya Bapak tidak menanam semua kebutuhan dapur pastinya.

Menginjak kami hampir dewasa, kala itu tentu kebutuhan keluarga kami lebih banyak dan semakin meningkat, Baik biaya hidup maupun biaya Pendidikan. Masih teringat betul, kala itu sekitar tahun 1997 dimana kakak pertama akan di wisuda di Institut Agama Islam Kediri, ibuk dan Bapak terlihat bingung untuk memenuhi biaya ujian akhir dan wisuda kakak. Kala itu aku masih sekitar kelas 3 madrasah Ibtidaiyah, dan tidak sengaja saat aku bermain dirumah, aku coba memperhatikan kondisi apa yang terjadi hingga membuat kakak pertama ku menangis tiada henti dan Bapak-Ibu yang terlihat bingung. Ternyata kala itu memang sudah agak siang, dan besok paginya kakak harus sudah diwisuda, sedangkan kantor administrasi biasanya tutup jam 16.00 sore. Bisa dibayangkan detik-detik kala itu, dan jika hari itu tidak bisa membayar maka kelulusan kakak pertama harus ditunda dulu untuk tahun depan.

Siang menginjak sore, senyum dikakak pertama tiba-tiba terlihat kembali, demikian pula dengan Bapak-Ibu yang sudah terlihat lega, dan memang syukur alhamdulillah kala itu ternyata ada orang yang sangat baik meminjamkan uang kepada kedua orang tua kami hingga akhirnya kakak ku bisa membayar uang akhir perkuliahan kala itu. Dan esok paginya, alhmadulillah kakak pertama ku berhasil diwisuda S1 bersama dengan teman seangkatannya yang lain dan dinyatakan sebagai sarjana.

Tidak lama setelah kakak pertama diwisuda, ada info dari pemerintah bahwa pemerintah mengalami krisis moneter. Krisis moneter aku sama sekali tidak faham apa artinya, yang kemudian setalah dewasa ini lah baru lah faham apa itu krisis moneter. Yang aku ingat kala itu, semua harga mulai dari bahan makanan, sandang, pangan, papan, semua melonjak naik termasuk dengan biaya Pendidikan. Satu mangkuk bakso yang harganya Rp. 100,00 berubah menjadi Rp. 250,00 dan terus naik hingga Rp. 500,00 sangat mahal sekali kala itu, dan sekarang bahkan lebih mahal lagi ada yang mencapai Rp. 8.000,00-Rp. 15.000,00. Beras yang awalnya hanya Rp. 750,00 menjadi Rp. 800,00 hingga akhirnya naik menjadi Rp. 1.500,00, dan naik sampai saat ini kualitas baik kisaran Rp. 11.000,00 an perkilogram. Dan barang serta kebutuhan lainya semua meningkat. Benar-benar bersyukur kakak ku sudah diwisuda sebelum krisis moneter terjadi, mungkin jika tidak entah apa yang akan terjadi, mengingat kala itu sebelum krisis moneter saja orang tua kami sudah cukup kesulitan untuk memenuhi biaya Pendidikan.

Dari kisah wisuda kakak pertamaku di atas, belum kebutuhan 5 saudara lainya termasuk aku disini tentu terus berjalan. Kakak kedua ku alhamdulillah kala itu meski Mondok di Sumber Sari Kencong Kediri, namun sudah bisa cukup mandiri dengan beberapa ternak ayam dibelakang rumah dan usaha srabutan lain. Kakak ketiga Mondok di Pondok Pesantren Alfalah Putri-Ploso Kediri, yang membutuhkan biaya cukup tinggi menurut kami kala itu. Kakak keempat yang kemudia sekolah di Madrasah Aliyah yang masih termasuk Yayasan Almahrusiyah di Kediri. Sedangkan aku dan kakak kelima ku masih duduk dijenjang Pendidikan madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah.

Himpitan ekonomi terasa lebih berat, kala itu setelah kakak keempat ku memulai Pendidikan di madrasah Aliyah, dimana kala itu kakak akan berangkat mondok di Yayasan Al Mahursiyah Lirboyo Kediri, kebutuhan kami bersaudara yang terus meningkat, dimana satu waktunya masuk sekolah, satu waktunya lulus, satu waktunya menikah dan segala pernak-pernikmya. Namun Alhamdulillah akhirnya meski dengan kondisi cukup tertatih sebenarnya namun alhamdulillah berhasil Bapak-Ibu dan kami semua lewati.

Teringat kala itu, alhamdulillah dari aku dan kakak kelima ku sekolah Madrasah Ibtidaiyah, alhamdulillah tidak pernah membayar SPP karena mendapatkan beasiswa, teringat benar kala itu karena kami keluarga cukup besar dengan 6 bersaudara, maka ada kebijakan dari sekolah kami, dimana apabila ada 3 bersaudara sekolah sekaligus di Madrasah Ibtidaiyah kami, maka yang paling akhir tidak akan dikenakan biaya SPP, dan alhmadulillah ini cukup meringankan keluarga kami. Dan alhamdulillah juga setelah kakak-kakak ku lulus dari Madrasah ini, kami pun tidak lantas berjumlah 3 bersaudara, aku dan kakak kelima ku mendapatkan beasiswa prestasi (sebutanya rangking kala itu) dan biaya SPP kami pun dibebaskan dan alhamdulillah ini berjalan sampai duduk dibangku Madrasah Aliyah Negeri. Kami sangat bersyukur minimal kami bisa sedikit meringankan beban Bapak dan Ibuk dan bisa fokus ke biaya Pendidikan saudara kami yang lain.

Masih tentang kakak keempatku, selesai Pendidikan di Madrasah Al Mahrusiyah, kakak berlanjut belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di Pare dan tidak langsung keperguruan tinggi, karena memang belum ada biaya. Sangat semangat, dan terlihat kakak ku yang ini memang lancar sekali berbicara baik Bahasa Iggris maupun Bahasa Arab. Iya, kakak ku yang ini memang suka sekali dengan Pendidikan Bahasa. Dan ketika kutanya kala itu, kenapa harus les di Pare, kakak ku menuturkan, bahkwa kedepan Bahasa pasti akan dibutuhkan dan pasti akan bermanfaat. Dan dari kakak ku ini aku pun mulai terinspirasi untuk juga belajar Bahasa. Terkait les di Pare Alhamdulillah, untuk biaya kursus disini tidak begitu banyak, karena kakak ku ini tidak perlu biaya kos dan biaya makan, karena semua itu sudah tercover dari rumah, maklum jarak rumah kami ke kursusan di Pare memang tidak begitu jauh. Sehingga selama kursus di Pare ini Kakak menempuh dengan pulang pergi sesuai arahan Bapak.

Kursus dimana saja, atau program apasaja, yang aku tahu kakak ku ini mengambil beberapa program Bahasa, di bebarapa lokasi juga. Selesai kakak keempat ku ini lulus dari Kursusan di Pare, Kakak mulai matur ke Bapak-Ibu untuk meminta ijin kuliah. Tentu saja kedua orang tua kami waktu itu terperanga dan terdiam belum bisa menjawab. Kenapa tidak jalur beasiswa, iya karena di sekitar tahun 2002 jalur beasiswa Pendidikan masih sangat sulit kami jangkau, jauh dengan kondisi saat ini tahun 2020an.  dan kala itu kakak keempat memilih Pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Malang, dan pilihannya jatuh hanya ke UIN Maliki Malang.

Mendengar kata Kota Malang, tentu secara tidak langsung yang terbayang adalah kata Mahal. Dari info yang Bapak-ibu dan kami tahu, baik biaya Pendidikan maupun biaya hidup di Kota tersebut sangat tinggi dan jauh dari kata murah. Apalagi ketika kami mendengar kata UIN Maliki Malang, sambil terdiam dan terlihat menghela nafas Panjang, beberapa hari kemudian akhirnya Bapak-Ibu mengiyakan dan mengijinkan kakak keempat ku untuk menempuh Pendidikan di kampus tersebut.

Dan meski dengan kondisi keuangan yang sangat minim kala itu akhirnya kakak keempat ku berhasil menjadi salah satu mahasiswa di kampus Islam negeri yang termasuk favorit di Malang ini. Teringat benar, waktu itu Ibu dan Bapak meminta hutang kepada seseorang untuk digunakan sebagai biaya daftar ulang dikampus tersebut. Bisa dibayangkan, mengawali daftar ulang saja, sudah mulai berhutang.

Hari demi hari, beban Pendidikan dikampus Malang ini semakin menghimpit kondisi ekonomi keluarga kami, selain beban Pendidikan biaya hidup di Kota ini juga tidak sedikit. Belum kebutuhan saudara kami yang lain tentunya. Dari mana biaya kuliah kakak selama ini? Sungguh terharu ketika mengingat masa itu. Bapak-Ibu sering ditagih Bank, ditagih beberapa orang, yang tentu mereka mendatangi rumah kami. masyaAllah luar biasa perjuangan mereka. Sangat maklum dari ke 6 saudara kami kala itu, masih hanya satu yang menikah, yaitu kakak pertama kami. Meski memang kakak pertama dan kedua sudah mandiri, namun kebutuhan 4 bersaudara kami yang lainnya masih sepenuhnya ada di Bapak dan Ibu, baik biaya Pendidikan, maupun biaya kebutuhan sehari-hari kami.

Himpitan demi himpitan ekonomi semakin terasa di keluarga kami, dan Pada akhir tahun ketiga, tepatnya mengijak tahun terakhir jenjang perkuliah S1 kakak keempat ku di Malang ini. Waktu itu kakak pertama ku sudah menikah, masih memiliki satu orang anak dan menjadi salah satu pengajar di IAI Tribakti dan STAIN Kediri, Kakak kedua di Sumber Sari, Kakak ketiga di Pondok Ploso, Kakak kelima mondok di PPHM Lirboyo Kediri, dan aku masih duduk dikelas 3 Aliyah, kami mendaptkan musibah yang luar biasa sangat mendalam.

Hari Raya idul fitri kala itu Bapak masih menjadi imam sholat Ied, dan masih menerima tamu seperti biasanya. Namun dihari ketiga Bapak mulai jatuh sakit. Tidak mengeluh sama sekali, karena Bapak memang sosok pribadi yang tenang, sabar, dan sangat luar biasa dihati kami. Tanpa mengeluh, hanya minta dipijat oleh tukang pijit langganan Bapak kala itu, dan ketika ditanya beliau hanya menjawab capek, dan itu kami kira capek seperti biasanya. Dan setelah dipijat Bapak akan sembuh sehat kembali.

Namun ada satu hal berbeda kala itu, dan aku coba bertanya ke Bapak, kenapa dengan perut Bapak (kala itu perut Bapak sudah terlihat kembung dan tidak mau kempes lagi), sudah dipijat kenapa masih tiduran, dan sama sekali aku “tidak ngeh” dalam Bahasa jawa atau tidak faham sama sekali kala itu dengan kondisi Bapak. Ternyata pada hari keenam setelah Bapak di diagnose dokter beliau sudah terkena penyakit lever dan ini sudah pada kondisi parah. Dan iya, tidak selang lama setelah Bapak masuk rumah sakit, dari sekitar jam 07.00 WIB, pada pukul 12.00 WIB Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Allah, kami sama sekali tidak menyangka. Baru kemarin kami diimai sholat, baru kemarin kami tertawa bersama seperti tidak ada apa-apa, sama sekali tidak mengeluh atau menampakkan rasa sakit. Rasa kaget, sedih, duka mendalam, serasa tidak percaya bercampur aduk di hari itu. MasyaAllah sungguh Bapak adalah orang baik, semoga diberikan “padang lan jembar kuburipun” (terang kuburnya, lebar kuburnya), aaamiiin.

Dari kedukaan diatas, atas meninggalnya Bapak, tentu sangat mempengaruhi keluarga kami, mulai dari ibuk apalagi dan saudara kami ber enam. Namun bagaimana lagi, Bapak sudah mendahului kami semua, dan sudah meninggalkan kami untuk selamanya, iya, tidak akan pernah kembali lagi. Dan dengan perasaan dan langkah berat pasti, kami harus melanjutkan hidup dan menghadapi kehidupan. Kami harus terus berjalan dan menyusuri perjalanan kehidupan kami yang saat itu masih berada di bangku Pendidikan. Meski dengan perasaan yang berat dan berat. Bismillah, akhirnya kami mencoba hidup dan Bapak akan selalu dalam ingatan dan hati kami.

Tidak selang lama setelah Bapak meninggal, Kakak ku yang kuliah di Malang akan ujian akhir Skripsi, dan kala itu aku akan menghadapi ujian akhir nasional Madrasah Aliyah Negeri. Rasa berat masih ada dalam hati atas kepergian Bapak. Namun ujian harus tetap dihadapi. Selain dari himpitan ekonomi kala itu yang semakin menjadi. Dimana kebutuhan Pendidikan kami 4 bersaudara cukup tinggi. Terlihat ibuk yang tidak begitu doyan makan, yang tentu masih sedih atas kepergian Bapak, namun harus tetap mencukupi dan menjadikan kami orang yang benar, dalam hal ini menyekolahkan kami di Pendidikan lanjut.

Dengan tertatih dan hutang sana-sini, dan dengan kebutuhan biaya kakak keempat yang akan lulus S1 di UIN Malang yang tentu dengan biaya tidak sedikit. Dan dengan biaya hidup di Kota Malang yang cukup tinggi pasti. Dengan usaha Ibuk sebagai orang tua tunggal kala itu, hutang tentunya yang masih bisa ibuk lakukan kala itu. Namun meski demikian benar-benar Syukur Alhamdulillah, akhirnya kakak keempat ku ini berhasil diwisuda.

Rasa haru dan tangis pun pecah disaat melihat kakak keempat ku ini berjalan beriringan dengan wisudawan lain, memasuki ruang wisuda. Tiba saatnya sesi pemindahan kucir, dipanggilah  nama kakak ku oleh host dan tentu nama kakak ku ini diikuti dengan nama kedua orang tua, yaitu nama Ibu dan nama Almarhum Bapak. MasyaAllah Bapak sudah tidak bisa ikut hadir dan menyaksikan anaknya yang berjuang dengan tertatih di kota besar Malang, karena memang Bapak sudah dipanggil oleh Allah.

Rasa haru  biru kala itu, semakin pecah tat kala terdengar informasi dari Bapak Rektor bahwa kakak keempatku ini berhasil menyandang predikat cumlaud Jurusan Sasta Arab, serta menyandang predikat terbaik, dan diberikan beasiswa kuliah S2 gratis di UIN Malang. Linangan air mata bahagia kami sudah tidak dapat dibendung lagi kala itu, teringat jelas bagaimana perjuangan Bapak-dan Ibu demi mewujudkan dan menjadikan sukses anak-anak mereka yang tentu sangat berat yang kemudian disertai dengan kepergian Bapak untuk selamanya. Selain tentu kami teringat pula dengan perjuangan kakak keempat ku yang luar biasa berat, seorang anak kampung, dari desa terpencil, dari seorang petani dan pedagang kecil, namun dengan semangat yang tinggi untuk bisa berhasil di Kota Besar Malang ini. Dan Alhamdulillah MasyaAllah, berhasil menjadi wisudawan terbaik dan mendapatkan beasiswa studi S2. Kami pun menangis bahagia Bersama. Terimakasih alhamdulillah ya Allah atas segala nikmatmu kepada kami.

Mendapatkan beasiswa kuliah Pendidikan Sastra Arab di Pasca Sarjana UIN Maliki alhamdulillah sangat kami syukuri. Dari sinilah kakak di Malang ku ini pun akhirnya sudah mulai bisa mandiri dan sudah tidak meminta kepada Ibuk atas biaya hidup maupun biaya Pendidikannya. Sedikit cerita, sebenarnya kakak ku ini sudah mulai belajar mandiri dari sejak semester sekitar 2, dengan mengajar disalah satu Sekolah Dasar Islam terpadu dan menjadi guru les privat di Kota Malang ini. Namun karena mungkin kebutuhan yang terlalu tinggi akhirnya kakak masih membutuhkan bantuan Bapak dan Ibu kala itu dalam menyelesaikan Pendidikan S1 kala itu.

2 tahun kemudian setelah kakak keempatku ini menempuh Pendidikan gratis di S2 Jurusan sastra Arab UIN Malang, Kakak ku inipun berhasil diwisuda S2 dan menyandang predikat Magister Humaniora, S2 Sastra Arab. Ketika wisuda S2 pun kami sekeluarga datang dan menyaksikan hari bersejarah dan mengharukan ini. Teringat benar perjuangannya selama menempuh Pendidikan S1, ibu dan Bapak hutang kesana-kemari demi memenuhi tuntutan biaya hidup dan Pendidikan di Kota Malang yang tidak sedikit. Tangis kami pun pecah kembali teringat almarhum Bapak yang Sudah tidak Bersama kami selain hanya dihati, semakin haru tat kala melihat Saudara keempat ku in, kakak ku ketika di panggil maju kedepan untuk pemindahan kucir wisuda S2 dengan nama Ibu dan Almarhum Bapak yang tentu disebut. Rasa semakin haru dan tidak tertahan lagi, ketika terdengar pengumuman yang dibacakan oleh Bapak Prof. Imam Suprayogo, Rektor UIN Maliki kala itu, dimana kakak keempat ku ini dinyatakan kembali sebagai mahasiswa terbaik dan memperoleh beasiswa Pendidikan S3, Program Doktoral di Pasca Sarjana UIN Maliki Malang. Sungguh luar biasa nikmat yang besar bagi keluarg kami. Bangga sekali kami kepadamu Kakak, dan Bangga sekali kami atas semua perjuangan kalian, Ibu dan Almarhum Bapak.

Lulus S2, kakak keempat ku ini kemudian diminta menjadi salah satu tenaga pengajar di UIN Maliki Malang, dan alhamdulillah beberapa tahun kemarin tepatnya aku lupa tahun berapa, kakak diangkat menjadi salah satu ASN Dosen di UIN Maliki ini. Alhamduillah, selamat, dan luar biasa sekali perjuangan dan pencapaianmu kakak. Dan 3 tahun setelah kakak ku menempuh Pendidikan doctoral jurusan Sastra Arab di Pasca sarjana UIN Maliki ini, kakak ku berhasil menyandang gelar Doktor yang dituliskan didepan Namanya. Alhamdulillah, Alhamdulillah ya Allah. Kami turut bangga dan senang sekali atas semua prestasimu.

Pendidikan S1 dengan perjuangan haru biru, tangis, dan Lelah, dilanjutkan dengan hadiah beasiswa S2 yang dilanjutkan S3, dan ASN Dosen, alhamdulillah keluarga kami bangga sekali padamu, Selamat, dan tepat kemarin, 30 Agustus 2021, untuk jam aku kurang tahu pasti, tapi yang jelas pagi hari, kakak keempat ku dipercaya menjadi seorang kepala prodi, jurusan yang selama ini dia belajar disana, jurusan Sastra Arab, UIN Maliki Malang. Selamat kakak, selamat ku ucapkan padamu. Meski jarang bertemu, karena saat ini kami hidup dikota yang berbeda, kebahagianmu selalu menjadi kebagaiaan kami semua. Teriring doa semoga selalu sukses dan bertambah sukses, dan selalu bahagia. Kurindukan masa-masa kecil yang selalu tertawa riang bersamamu. Semoga kami semua, dan semua keponakanmu bisa menirukan semangat dan keberhasilanmu.

Kakak ku, selamat, selamat ku ucapkan kepadamu. Selamat juga kepada ibu kami, wanita yang luar biasa hebat, perjuanganmu untuk kami sangat luar biasa, terlebih atas sepeninggalan Bapak, Ibu telah menjadi Bapak dan sekaligus Ibu bagi kami semua. Dan semoga Almarhum Bapak, diparingi khusnul khotimah, diampuni segala hilaf dan dosanya, dan dipun paringi jembar dan padhang kubure. Aaamiiin. Sungguh Bapak adalah orang baik, dan Bapak akan selalu ada di hati kami.

 

Tulungagung, 2 September 2021

 

 

Komentar

  1. Luar biasa bu, sungguh inspiratif. Kalau kita benar-benar serius dalam menuntut ilmu maka jalannya akan terbuka sendiri.

    BalasHapus
  2. aaamiiin aaamiiin,. pangestunipun Pak Hamim🤲 mtr swn sanget

    BalasHapus
  3. Masya Allah Sangat menginspirasi bu. Semoga njenengan beserta keluarga selalu dalam kasih sayang_Nya aammiinn. 🤲🤲

    BalasHapus
  4. Aamiin ya Rabb. Selamat atas segala kesuksesan kakak. Semoga membawa keberkahan bagi keluarga dan lembaga.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAWALI HARI DENGAN SELALU BERSYUKUR

Sekedar mengingat masa lalu, dan mencoba menilik masa kini

Pentingnya Pendidikan, Pengajaran, dan Pembiasaan Sejak Dini